Pihak Berseteru di Libya Ogah Berunding

51 views
Libya tidak lepas dari konflik berdarah sepeninggal diktator Muammar Khadafi pada Okt. 2011. Saat ini kubu Pemerintah Kesepakatan Libya (GNA) di bawah PM Fayez al-Sarraj bertempur melawan Tentara Nasional Libya (LNA) dipimpin Jenderal Khalifa Haftar.
- Advertisement -

PRESIDEN Rusia, Turki dan Perancis sepakat mengakhiri segala bentuk intervensi di Libya, namun sayangnya, wakil kedua belah pihak yang bertikai di Libya malah tak hadir dalam dialog di Berlin, Minggu (19/1).

Sedianya, pertemuan Berlin dimaksudkan untuk mempertemukan PM Libya Fayez al-Sarraj mewakili kubu Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) berbasis di Tripoli dan Jenderal Khalifa Haftar dari kubu Tentara Nasional Libya (NLA) berbasis di Tobruk.

Pemimpin negara-negara yang terlibat di Libya hadir langsung dalam pertemuan, selain tuan rumah Kanselir Angela Merkel, Presiden Perancis Emmanuel Macron, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Turki Tayyip Recep Erdogan dan Sekjen PBB Antonio Guterez.

Para pemimpin global tersebut sepakat mengakhiri segala bentuk intervensi terhadap konflik Libya baik melalui pasokan senjata, pengiriman pasukan mau pun pendanaan dan mereka juga berjanji untuk menegakkan kebijakan embargo senjata yang dikenakan PBB terhadap Libya.

Kubu PM al-Sarraz sejauh ini didukung oleh PBB, Turki yang juga menempatkan pasukan, tank dan drone di Libya, Qatar serta pasukan bayaran dari Chad dan Sudan.

Sebaliknya, Arab Saudi, Jodania, Mesir, Perancis, Rusia dan Uni Emirat Arab berada di belakang kubu pimpinan Jenderal Haftar. Rusia dan Sudan disebut-sebut mengirimkan tentara bayaran ke Libya.

Pertemuan yang digagas oleh Utusan Khusus PBB untuk Libya Ghassan Salameh dan Kanselir Jerman Angela Merkel itu gagal mempertemukan pimpinan kedua kubu (GNA dan LNA) yang agaknya sedang saling memperkuat posisi masing-masing di medan tempur.

Posisi kubu Haftar sendiri sedang di atas angin, karena berkat dukungan militer yang mengalir dari Mesir, Rusia dan UEA, pasukannya sudah mendekati markas besar musuhnya di Tripoli, sehingga al-Sarraj pun meminta bantuan pasukan Turki untuk mempertahankannya.

- Advertisement -