SARPAKENAKA MURCA (2)

79 views
Sarpakenaka menangis di depan Prabu Dasamuka, memutar balikkan fakta.
- Advertisement -

          BEGITULAH Sarpakenaka, berwujud wanita, tapi sepakterjang dan pembawaannya seperti lelaki. Bahkan di betisnya terdapat tato ular naga. Tapi karena kini sedang gatel, rindu akan lelaki, dia mencoba tampil feminine. Maka setelah ditolak mentah-mentah oleh Raden Rama, Sarpakenaka yang tengah menjelma bak Putri Solo itu segera mendekati Lesmana.

“Raden belum punya istri, kan? Kawinilah aku, pasti Anda akan bahagia sepanjang masa.” Ujar Sarpakenaka to the point saja, tanpa basa-basi.

“Dasar perempuan tolol, merayu lelaki kok begitu. Malah kabur cowoknya nanti. Yang anggun dan santun dong. Kalau model sepertimu, kesannya kamu perempuan gatel,” sergah Lesmana.

“Nggak mungkin gatel Raden, wong saya selalu siap Kalpanax dan Salep 88….” Jawab Sarpakenaka seenaknya dan ndableg sekali.

Lesmana semakin yakin bahwa wanita cantik di tengah hutan ini hanya sekedar jadi-jadian, bukan aslinya. Jangankan yang hanya duplikatan, sedangkan yang asli dan tulen saja Lesmana takkan pernah tertarik, sebab dia telah bersumpah, takkan menikah selama hidupnya. Bagaimana jika sudah tua jompo kelak, tinggal di Panti Jompo juga nggak apa-apa. Begitu saja kok repot!

Rupanya Sarpakenaka sudah ngebet betul, sehingga tanpa malu-malu lagi langsung merangkul tubuh Lesmana. Pipinya diciumi, sampai Lesmana jadi ketakutan. Karena putri jadian itu semakin agresip, adik Rama ini segera ambil kater buat memagas hidung mancung penjelmaan Sarpakenaka.

“Dibilangi kok susah, nih rasakan, hih……” ujar Lesmana sambil memotong hidung Sarpakenaka.

“Athoooo, sakit tahu!” teriak Sarpakenaka dan seketika kembali ke wujud aslinya.

Dengan hidung berdarah-darah, Sarpakenaka terbang menggapai angkasa. Untung saja dia bawa betadin, sehingga luka itu cepat mampet dan tidak infeksi. Di atas hutan Dandaka dia kemudian mengancam Lesmana, tanpa malu-malu membawa-bawa nama pejabat.

- Advertisement -