RAMA GANDRUNG (1)

176 views
Dewi Sinta sangat tertarik akan penampilan kidang yang berkulit seperti emas 24 karat. Rama pun diminta menangkapnya.
- Advertisement -

KEDUANYA segera mendarat dengan cantik di ara-ara amba (baca: tanah kosong) mirip lapangan  Monas yang baru ditebangi ratusan pohonnya oleh Gubernur DKI demi revitalisasi. Kira-kira sepenggalah dengan posisi trio Rama-Sinta-Lesmana. Ketiganya sama sekali tidak tahu bahwa ada rencana jahat dari negeri seberang, yang pada akhirnya nanti akan menjadikan dua negara saling berhadapan bak Iran – Amerika Serikat. Bedanya adalah dua negara itu soal kedaulatan, sedangkan Rama-Dasamuka soal selangkangan!

 Kala Marica sebelum menghamba pada Prabu Dasamuka, adalah seniman kelas kampung yang biasa main kethoprakan dan wayang orang. Di Jakarta dia sering pentas di WO Barata, Kalilio Senen. Karenanya soal bermake up dengan cepat dia mahir sekali. Jadi putri cantik bisa, apa lagi hanya didapuk jadi kidang kencana itu pekerjaan simpel sekali. Yang agak merepotkan justru menyulap Prabu Dasamuka jadi kakek tua renta, seperti para kakek-nenek penerima kartu prakerja Presiden Jokowi. Dari phisiknya saja tak pantas kakek abal-abal ini dapat santunan Rp 500.000,- sebulan.

“Kemiringan punggungnya jangan 45 drajat, gusti Prabu. Seperti rukuknya orang salat, atau niru bungkuknya Begawan Abiyasa.” Kata Kala Marica memberi petunjuk.

“Ha, ada Abi Yasa, apakah itu wayang PKS?” potong Prabu Dasamuka.

“Husy, jangan sampai ke situ mikirnya Boss. Nanti Abimanyu, Abilawa, dianggap orang PKS juga dong!” sergah Kala Marica dengan berani. Baru Kala Marica saja yang berani meng-hussy raja Alengka itu.

Prabu Dasamuka memang wayang cerdas, lebih-lebih dalam urusan perempuan. Maka dengan cepat bisa mengikuti arahan Kala Marica dengan benar. Dengan mengenakan jubah, teken (tongkat) dan kethu, ditambah suara bergetar seperti wayang telat sarapan pagi, penyamaran Dasamuka nyaris sempurna.

- Advertisement -