Kemen PUPR Cepat Atasi Masalah Pengairan di Madiun Berkat Laporan Dompet Dhuafa

81 views
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur Khalid Abdillah mendampingi Tim Kementrian PUPR melihat kondisi saluran air di Madiun. Foto: DD Jatim
- Advertisement -

MADIUN – Kepala Subdirektorat Perencanaan, Direktorat Irigasi dan Rawa Kementerian PUPR, Muhammad Tahid, hari ini (29/1) mengecek langsung kondisi saluran di kab. Madiun, Jawa Timur setelah mendapat laporan dari Dompet Dhuafa.

Didampingi oleh beberapa instansi terkait, pria yang biasa disapa Tahid ini, mengecek langsung saluran irigasi yang sudah mulai mengalami pendangkalan dan penyempitan.

Kholid Abdillah selaku pimpinan cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur yang yang mendampingi rombongan dari kementrian PUPR mengatakan bahwa saat ini para petani mengalami beberapa masalah, diataranya adalah kesulitan mendapatkan akses pengairan karena aliran irigasi tidak sederas beberapa tahun silam. Mereka terpaksa membuat sumur tanah.

Tentu Hal ini membutuhkan biaya yang Tak sedikit. Hanya petani yang berkecukupan saja yang bisa melakukannya. Adapun petani miskin, mereka harus rela memangkas keuntungan hasil taninya untuk mendapatkan air Dari sumur tanah yang dialirkan menggunakan sibel.

Slamet, petani binaan RBDD mengatakan, “Kami berharap segera dilakukan pengerukan dan pembersihan saluran irigasi agar air kembali lancar dan jika hujan turun dengan intensitas tinggi tidak menyebabkan banjir. Dengan irigasi lancar, kami bisa berhemat dan tidak mengeluarkan banyak biaya.

Usai mengecek lokasi, rombongan mengunjungi RBDD, zona mandiri dan berdaya yang diinisiasi oleh jurnalis senior Parni Hadi.

RBDD melalui Parni Hadi adalah instansi yang pertama kali berinisiatif mengatasi permasalahan irigasi yang ada di sekitar kecamatan Sawahan dan menghubungi pihak-pihak terkait.

Konsep pengembangan holistic RB DD Rejosari setelah normalisasi saluran irigasi adalah, melakukan penanaman pohon buah atau bunga sepanjang pinggir saluran, penebaran benih ikan, pembuatan sumur biopori, embung, PAH (penampung air hujan) untuk bantu pengairan, mendirikan unit usaha pembuatan pupuk organik dalam skala kecil dan makanan ternak (memanfaatkan sisa batang padi pasca panen), pengembangan demplot pertanian ramah lingkungan, kursus atau diklat untuk pertanian, seni budaya, bahasa Inggris, jurnalistik, home industries, kuliner, kepramukaan, relawan sosial, kader sehat dan tentunya wisata desa dengan atraksi alami (air, ikan, tanaman) seni budaya lokal.

- Advertisement -