Serangan Rezim Buat 40.000 Warga Suriah di Idlib Melarikan Diri dalam Dua Hari Terakhir

49 views
Ilustrasi Serangan Assad dan sekutu ke Idlib. Foto: Anadolu
- Advertisement -
SURIAH – Serangan yang sedang berlangsung oleh rezim Bashar al-Assad di Suriah dan sekutunya memaksa sekitar 40.000 warga sipil meninggalkan rumah mereka di Idlib, zona de-eskalasi di Suriah barat laut, selama dua hari terakhir.
Warga dar daerah-daerah pusat Idlib dan Ariah, Jabal Zawiya, dan Saraqib terpaksa mengungsi karena serangan-serangan intensif, menurut Kelompok Koordinasi Respons Suriah.

Serangan oleh pasukan rezim, kelompok-kelompok teror yang didukung Iran dan serangan Rusia menjadi alasan utama di balik migrasi paksa tersebut.

Mayoritas orang-orang terlantar tiba di kamp-kamp di dekat perbatasan Turki sementara yang lain berlindung di daerah-daerah yang bebas dari unsur-unsur teror setelah kampanye militer Turki.

Sejak 2016, Turki telah meluncurkan trio operasi anti-teroris yang sukses melintasi perbatasannya ke Suriah utara untuk mencegah pembentukan koridor teror: Operations Euphrates Shield (2016),  Olive Operation  (2018), dan Peace Spring (Oktober 2019).

Dengan perpindahan terbaru, jumlah orang yang dipindahkan dari Idlib dan Aleppo sejak awal tahun lalu telah meningkat menjadi hampir 1,68 juta.

Warga sipil menghadapi kesulitan besar dalam menemukan tempat untuk berlindung karena kamp-kamp pengungsi penuh sesak dan tidak memiliki infrastruktur penting. Ribuan keluarga sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan karena mereka berjuang untuk hidup dalam kondisi musim dingin yang keras.

Dihimpu Anadolu, pada bulan September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang. Namun, lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas dalam serangan oleh rezim dan pasukan Rusia di zona de-eskalasi sejak saat gencatan senjata terus dilanggar.

Dalam langkah baru, Turki mengumumkan pada 10 Januari bahwa gencatan senjata baru di Idlib akan dimulai tepat setelah tengah malam pada 12 Januari. Namun, rezim dan kelompok-kelompok teroris yang didukung Iran melanjutkan serangan mereka.

- Advertisement -