Lupakan Para Eks WNI ISIS

36 views
Perempuan ISIS, para tuan tak berwajah. Gara-gara terbius internet, banyak orang Indonesia tertipu rayuan ISIS.
- Advertisement -

JIKA ditilik dari rasa kemanusiaan, memang kasihan juga nasib 600 eks WNI yang jadi kombatan (tentara) ISIS di Suriah itu. Setelah pasukan pengagung gerakan khilafah itu terdesak dan kalah, mereka terlantar seperti orang kabur kanginan. Akhirnya mereka merengek ingin kembali ke Indonesia. Tapi jika melihat kelakuan mereka selama ini, yang menganggap pemerintah RI thogut, sampai-sampai menyobek paspor miliknya, biarkan saja mereka out! Lupakan saja para kombatan, tak perlu diurus dan  dipulangkan. Biar jadi pengajaran buat mereka yang telah membenci negara sendiri.

Kabar ingin kembalinya para eks WNI itu bermula dari Menag Fachrul Razi mengutip pernyataan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris) bahwa pemerintah akan pulangkan 600 eks kombatan (tentara) ISIS dari Suriah. Tiba-tiba Menag kita meralat ucapannya bahwa beliaunya tak pernah mengatakan demikian. Tapi Presiden Jokowi menolak, Menko Polhukam Mahfud MD juga demikian. Apa keputusan resminya baru disampaikan bulan Juni mendatang. Coba, apa nggak sakitnya sampai di sini, mereka sudah empot-empotan, tapi pemerintah Indonesia angin-anginan.

Orang-orang yang membanggakan negara khilafah, dan mereka ingin Indonesia seperti itu, kini populer disebut kadal gurun atau kadrun. Ketika pemerintah menolak dan kemudian membubarkan HTI “agen” negara khilafah, para kadrun ini jadi benci pada negara sendiri. Terbius rayuan ISIS lewat internet, mereka pun beserta keluarganya memilih tinggalkan Indonesia bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Hingga 2017 tercatat sebanyak 617 WNI yang eksodus ke pangkalan ISIS di Irak dan Suriah. Mereka ini yakin bahwa bersama ISIS akan terciptalah negara baldatun toyibatun warobbun ghofur (negara adil makmur penuh ampunan Allah Swt). Begitu yakinnya para kadrun ini akan “negara surgawi” yang ditawarkan ISIS, mereka rela melepas segala asetnya dan memboyong sanak keluarganya ke Suriah-Irak. Begitu yakinnya takkan kembali selamanya ke Indonesia, sampai-sampai ada yang menyobek-nyobek paspor RI miliknya.

- Advertisement -