“Jalan Terjal” Palestina

66 views
- Advertisement -

BANGSA Palestina harus “memapak jalan terjal” untuk menggapai kemerdekaannya setelah menolak proposal damai prakarsa Presiden AS Donald Trump yang dinilai terlalu berpihak pada Israel.

Perwakilan otoritas Palestina dilaporkan juga menarik kembali rancangan usulan yang dimotori oleh anggota tidak tetap PBB RI dan Tunisia guna menggelar voting terhadap usulan Trump tersebut.

Hal itu terungkap dalam pertemuan knsultasi antara Menlu RI Retno LP Marsudi dan PB Nahdlatul Ulama guna membahas isu dan dukungan RI terhadap Palestina di Jakarta, Selasa (11/2).

Pada pertemuan itu, Menlu dan Ketua BP NU KH Said Aqil Siroj menegaskan kembali bahwa sesuai amanah UUD ‘45, RI akan terus mendukung perjuangan Palestina dan mengingatkan, persatuan Arab menjadi kunci utama untuk mendorong kemerdekaan Palestina.

Usulan damai Trump setebal 80 halaman yang disebut-sebut sebagai “Transaksi Abad ini” yang disampaikan Trump didampingi PM Israel Benyain Netanyahu di Washingtoon (28/1) a.l. memuat butir penegasan tentang “solusi dua negara” yakni Israel dan Palestina.

Jerusalem yang sejauh ini sudah ditetapkan sepihak sebagai ibu kota Israel ditegaskan lagi tetap sebagai ibukota Israel yang tidak bisa dipisahkan dari negeri Yahudi itu.

Selain mendesak Palestina menghentikan serangan-serangan dari kelompok garis kerasnya, Hamas ke Israel, Palestina juga diminta menyiapkan kelembagaan pemerintahan bagi terbentuknya negara Palestina beribu kota di Abu Dis, bagian wilayah Jerusalem Timur.

Tukar guling tanah juga disebut dalam proposal tersebut. Palestina mendapat tambahan lahan di Gurun Negev, sebaliknya permukiman Yahudi di Tepi Barat berada di bawah kedaulatan Israel.

Ada masa transisi empat tahun bagi kedua belah pihak untuk menyetujui secara final dan pada masa itu keduanya diminta menggelar perundingan yang memungkinkan merevisi butir-butir proposal, sementara Israel dilarang membangun permukinan Yahudi baru.

- Advertisement -