DBD Juga Perlu Diwaspadai!

41 views
Saat dunia fokus pada pandemi virus Corona, di tanah air, wabah DBD juga perlu diwaspadai karena sudah terdeteksi sebanyak 3.256 kasus di 19 provinsi dan 139 kabupaten/kota serta merenggut 27 jiwa.

SAAT mata dunia terfokus pada epidemi virus Corona (Covid-19) berasal dari kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, diam-diam wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) merebak di tanah air.

Otoritas China melaporkan, sampai Kamis (13/2) sudah 1.367 korban terinfeksi Covid-19 meninggal, sedangkan total korban yang terjangkit sebanyak 59.804 orang.

Yang mencemaskan, pada hari yang sama tercatat terjadinya lonjakan tambahan jumlah korban yang meninggal yakni 254 orang dan yang terjangkit 15.152 orang atau terbanyak sejak penyebaran Covid-19 pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, 9 Desember lalu.

Indonesia sendiri perlu bersyukur, walau ada kecurigaan dari pihak asing bahwa belum adanya kasus wabah tersebut karena ketidak-mampuan otoritas kesehatan mendeteksinya, sejauh ini memang belum satu pun korban terbukti terpapar virus mematikan itu.

Sementara virus DBD yang dibawa nyamuk aedes aegypti, menurut laporan Depkes RI, setelah terdeteksi sejak Oktober lalu hingga 13 Februari terdapat 3.256 kasus yang menyebar di 19 provinsi dan 132 kabupaten serta mengakibatkan 27 korban meninggal.

Korban meninggal terbanyak terdapat di NTT (6), Jambi, Lampung dan Jatim (masing-masing 4), Bengkulu (3), Sumbar (2), sedangkan Kep. Riau, Babel serta Jabar dan Jateng (masing-masing 1).

Gejala DBD umumnya timbul 4-7 hari sejak gigitan nyamuk yang dapat berlangsung sampai 10 hari, sedangkan korban mengalami demam tinggi mencapai 40 derajat Celsius, nyeri kepala berat, nyeri pada sendi, otot dan tulang, bagian belakang mata, nafsu makan menurun, mual dan muntah, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam kemerahan sekitar 2-5 hari setelah demam, kerusakan pada pembuluh darah dan getah bening dan perdarahan dari hidung, gusi, atau di bawah kulit.

Meningkatnya kasus-kasus DBD, menurut Div. Penyakit Tropik dan Infeksi FK-UI Adityo Susilo, seiring dengan meningkatnya jumlah vector penularan penyakit yakni aedes aegypti memasuki musim penghujan sejak Oktober lalu.