Ganja Penutup Utang ?

64 views
- Advertisement -

Meski ada sisi manfaatnya, karena ada unsur “bikin ketagihan”-nya, pemerintah tak mau ambil resiko. Bila dilegalkan, nanti generasi muda ngeganja menjadi umum dan bagaimana nasib bangsa Indonesia ke depan? Bila ganja dan narkotika bisa berjalan seiring, negeri ini yang pernah jadi negeri wartel bisa berubah menjadi gudangnya kartel narkotika sebagaimana Kolombia.

Ganja memang masih dianggap bagian dari narkotika yang diperangi dunia. Berdasarkan kesepakatan internasional, daun ganja masih menjadi barang larangan bahkan sejak tahun 1961, pemerintahan Orde Lama. Maka usulan abi Rafli dari PKS ini bisa dianggap koplak dan melawan arus. Politisi PKS Tifatul Sembiring sampai bilang, “Itu orang keseleo lidah, jangan ditanggapi.” PKB yang hendak menggoreng wacana itu juga ditegur Tifatul dengan kata-kata, “Kalau mau menggoreng isyu, yang bermutulah.”

Sudah bukan rahasia lagi, Aceh memang dari dulu terkenal akan “swasembada” ganja. Tapi karena dilarang negara, kebon ganja selalu dibabat dan penanamnya jadi urusan polisi. Karena barang larangan, otomatis harganya menjadi mahal laksana emas. Tapi misalkan dilegalkan, otomatis harganya akan menurun. Petani ganja Aceh sana bisa kelabakan, dan  apakah Bulognya Buwas mau turun tangan dengan “operasi pasar”-nya?

Di sejumlah negara termasuk Afrika, ganja memang sudah dilegalkan sebagaimana Lesotho dan Zambia. Apakah Indonesia akan menduplikasinya, sehingga bisa menyumbang pembayaran utang negara, itu masih merupakan mimpi. Jika sampai terjadi, program Ganja Rakyat Intensifikasi mampukah menyejahterakan rakyat seperti TRI-nya Pak Harto? Bisa-bisa ada juga bupati masuk penjara gara-gara penyelewengan GRI sebagaimana bupati Bupati Tegal tahun 1970-an. (Cantrik Metaram)

 

 

- Advertisement -