RAMA GANDRUNG (3)

97 views
Peksi Jathayu menjawab semua pertanyaan Rama Wijaya dengan kepala lunglai. Akhirnya, setelah menyebut nama "negeri Ngaleng" burung raksasa itu wasalam.
- Advertisement -

TAHU-tahu perburuan Rama Wijaya sampai DTW (Daerah Tujuan Wisata) Telaga Sarangan, tempatnya margasatwa mandi berkecipuk ria, bebas menghias diri berkicau murai di tepian telaga. Kolam air ciptaan Tuhan, dipagar bukit-bukit rimba, tempat insan datang untuk menghibur lara. Di kakinya Gunung Lawu, di situ letaknya. Kagum aku memandang keindahanmu oh rahasia alam.

Biar bukan wayang sumbu pendek, Rama Wijaya tak bisa berlama-lama dipermainkan oleh kidang kencana yang terus menggoda dan meledek dirinya. Takut semakin jauh dari tempat Dewi Sinta, busur pun direntang dan panas dilepaskan, jebret. Kena sudah! Tapi setelah berteriak athooooo……pertanda kesakitan, si rusa bukannya ambruk tapi justru berubah jadi manusia setengah raksasa, Kala Marica. Kembali ke wujud aslinya, dia langsung terbang tinggi menyusul tuannya, Prabu Dasamuka.

“Tungguin gue dong, jangan main tinggal saja!” teriak Kala Marica.

“Pulang sendiri, gue repot nih….!” Jawab Prabu Dasamuka sayup-sayup sampai.

Adegan itu demikian singkat, hanya sekelebatan. Rama Wijaya begitu sadar telah dikadalin wayang asing, segera balik bakul kembali ke tempat Dewi Sinta ditinggalkan bersama adiknya, Lesmana. Nalurinya mengatakan, telah terjadi sesuatu sepeninggalnya. Jangan-jangan Dewi Sinta dalam bahaya, jangan-jangan… jangan gudeg sambel krecek!

Tak lama kemudian mak gabrusss….., hampir saja Rama bertabrakan dengan Lesmana pas di tikungan tengah hutan yang tentu saja tanpa lampu bangjo (traffic light). Keduanya sama-sama kaget.  Rama kaget kenapa Lesmana meninggalkan istrinya sendirian, sedangkan Lesmana kaget karena ternyata sang kakak gagal membawa kidang kencana yang dikejarnya. Lalu suara apa pula yang terdengar berteriak nyaring itu?

“Bagaimana dimas Lesmana, kok diajeng Sinta ditinggalkan sendirian?” tegur Rama cemas.

“Maaf kangmas, mbakyu Sinta yang memaksaku untuk segera menyusulmu. Aku sudah menjelaskan panjang lebar sesuai juklak dari kangmas, tapi Mbakyu Sinta malah menuduhku yang mboten-mboten saja. Ya sudahlah, aku menyusulmu.” Jawab Lesmana tak mau disalahkan. Ini memang bukan salaman (salah Lesmana), apa lagi Salawi (Salah Jokowi) dan Salahok (salah Ahok).

- Advertisement -