Terowongan Silaturahmi

65 views
Mesjid Istiqlal dulu dibangun Presiden Sukarno berdekatan dengan gereja Katedral dengan maksud untuk membangun toleransi beragama.
- Advertisement -

SELAMA ini kita mengenal terowongan seputar Trowongan Mina di Mekah, Terowongan Gubeng di Surabaya, dan Terowongan Ijo di Gombong (Jateng). Pada pemerintahan Jokowi yang infrastruktur maniak, bangun jalan tol di mana-mana, mengakibatkan semakin banyak terowongan dibangun, yang istilahya sekarang menjadi underpass. Tapi paling terakhir, Presiden Jokowi hendak membangun Terowongan Silaturahmi. Apa pula ini? Jangan salah, “silaturahmi” di sini bukan nama kota, melainkan usaha pemerintah untuk memerangi intoleransi antara umat beragama.

Belum lama ini Presiden Jokowi meninjau renovasi besar-besaran Mesjid Istiqlal di dekat Lapangan Banteng. Dalam kesempatan itu ada yang mengusulkan, alangkah baiknya bila antara Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral dibangun terowongan penghubung. Sebab selama ini toleransi beragama antara  jemaah Istiqlal dan Katedral sangat kental. Dalam setiap kegiatan hari besar agama, mereka saling bantu.

Mendengar usulan itu Presiden Jokowi  langsung menyetujui. Bangunan terowongan itu nantinya akan diberi nama Terowongan Silaturahmi. Presiden Jokowi sangat MTT (Mathuk Thok) atas gagasan itu, karena hal ini merupakan salah satu bentuk membangun toleransi beragama. Belakangan ini iklim kebersamaan antara ummat beragama memang sering terganggu.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid langsung memberi masukan, sebaiknya pembangunan silaturahmi itu jangan dalam bentuk terowongan, tapi jembatan penyeberangan. Kenapa, sebab jika bentuk terowongan efek publikasinya kurang, sebab di dalam tanah. Beda bila bentuknya terowongan, akan mudah dilihat bagaimana umat Islam dan Kristen bertoleransi beragama.

Saran Hidayat Nurwahid memang benar juga. Tapi jangan lupa, orang akan lebih sadar akan keagamaan masing-masing biasanya ketika sudah berangkat tua bahkan udzur. Nah, dalam usia tua nan lanjut, orang merasa kecapekan naik tangga, dengkul yang tak bisa diajak kompromi. Bisa dhengkelen kata orang Jawa. Apa perlu pakai eskalator?

- Advertisement -