RATU DADI PETRUK

372 views
Antasena-Gatutkaca heran, ada Petruk kok tanpa membawa petel dan badan kegemukan.

SUDAH berulangkali Pendhawa menuntut kembalinya negara Ngastina, tetapi Prabu Duryudana selalu mempertahankan dengan berbagai alasan. Yang menjadi biang keroknya sebetulnya Dewi Gendari, ibu dari seratus Kurawa. Dialah yang selalu memprovokatori agar mempertahankan negeri warisan Prabu Pandu yang juga sesepuh Pramuka tersebut. Kalau Prabu Destarata sih, sesungguhnya telah menyarankan agar dikembalikan saja, tapi tak pernah digubris istrinya. Setiap berdebat soal negeri Ngastina dengan Dewi Gendari, Prabu Destarata pasti kalah, sebab selalu mendapat ancaman maut: “Awas, nggak gua masakin lu….!”

Pandawa sendiri meskipun selalu dikadali Prabu Duryudana bersama para kroninya, masih juga sabar, tak mau membawa ke sidang PBB. Tapi sesungguhnya sikap politik sedemikian itu hanya dimiliki Prabu Puntadewa beserta para adik-adik. Untuk para generasi muda seperti Antasena, Gatutkaca, Abimanyu, sudah tak sabar lagi. Para putra Pandawa ini sudah ngebet ingin menghajar tokoh-tokoh Ngastina yang selalu mengganjal kembalinya negeri Gajahoya. Patih Sengkuni, Pandita Durna, Prabu Duryudana, kesemuanya telah masuk “daftar hitam” yang harus dieksekusi untuk tumbal kembalinya nagara Ngastina pada Pandawa.

“Dimas Antasena, sebelum merebut negara Ngastina, seyogyanya mohon restu kepada para pepunden kita. Nanti malah dipersalahkan lho….,” saran Gathutkaca.

“Alah, nggak perlu, kebanyakan  prosedur amat! Bapa Werkudara, Pakde Puntadewa dan paman Harjuna – Nakula – Sadewa, tahunya mateng bagehi saja.” jawab Antasena yang menjadi korlap (kordinator lapangan).

Secara diam-diam hari itu para putra Pandawa bermaksud menggelar demo tak berizin di Ngastina sekalian salat Jumat di Monas. Selain menyiapkan gulungan spanduk macam-macam, juga tersedia bom molotov. Ratusan kawula cilik di Ngamarta diajak sekalian, biar rame. Diberi amplop Rp 50.000,- perorang plus nasi bungkus, dinaikkan  truk sampah pinjam Dinas Kebersihan Pemprov DKI Jakarta. Antasena Cs sudah bertekad bulat: bila situasi mengijinkan, dampar Ngastina mau direbut. Prabu Duryudana, Patih Sengkuni, Pandita Durna, ditangkap dan diserahkan ke KPK. Sanksi hukumnya diusahakan kejam dan sadis, koruptor-koruptor kakap iku dihukum mati sebagaimana di RRC.