Menikahi Orang Miskin

145 views
Banyak orang kaya memilih "mengawini" artis online dan kemudian digerebek polisi.
- Advertisement -

INGIN mempertahankan jenis sudah menjadi naluri manusia. Sebagai manusia berbudaya dan beragama, kemudian terciptalah yang namanya pernikahan. Tapi di negeri ini, ketika laju pertumbuhan ekonomi si kaya dan si miskin tak seimbang, sampai-sampai Menko PMK Muhadjir Effendi punya gagasan, sebaiknya orang kaya berlomba-lomba menikahi orang miskin. Mudah diucapkan, tapi tidak mudah dalam praktek dan kenyataan.

Ahli ilmu jiwa Sigmund Freud mengatakan bahwa nafsu mempertahankan jenis sudah menjadi naluri manusia. Dalam Qur’an juga digariskan, dijadikan umat manusia berpasang-pasangan agar hidupnya menjadi tenteram (Surat Arum ayat 21). Tapi banyak juga memang, punya satu pasangan masih juga belum tenteram dan belingsatan pengin nambah. Maka dalam Islam dibolehkan menikah sampai 4 istri, asalkan mampu berlaku adil. Jika tidak, ya sudah cukup satu saja (Surat Anisa ayat 3).

Tapi ingat, mampu itu tak sekedar berlaku adil dalam hal membagi “piket” atau menggilir sejumlah istrinya. Antara kemampuan onderdil dan materil harus berbanding lurus. Jika hanya berkemampuan onderdil belaka, nantinya bisa terjebak menjadi lelaki yang istikomah dalam arti: istri tiga kontrak rumah! Orang model begini memang lebih mengutamakan kandang “burung”-nya, ketimbang rumah sebagai istana keluarga.

Meski belum pernah ada surveinya, tapi di tengah masyarakat Indonesia banyak manusia-manusia seperti ini. Untuk ngurus satu istri saja kerepotan, berani-beraninya berpoligami sekedar untuk menjadi pabrik anak. Padahal pada gilirannya, ketika banyak istri itu telah menjelma sebagai “bonus demografi” akan menjadi beban pemerintah juga.

Oleh karenanya, demi memerangi jurang kemiskinan, perbedaan tajam antara si kaya dan si miskin, Menko PMK Muhadjir Effendi menganjurkan agar orang kaya berlomba-lomba menikahi orang miskin. Dengan cara demikian terjadilah pemerataan rejeki dan orang miskipun ikutan jadi kaya dan naik derajatnya.

- Advertisement -