CUPU MUSTIKANING WARIH (1)

177 views

“Mayoritas dialirkan ke kali lewat WC Helikopter,” kata LSM dari Ngastina.

“Mengatasi banjir Ngastina itu gampang, airnya dimasukkan ke tanah, rajanya dibuang ke laut,” jawab Prabu Dasamuka dengan aksen kental Madura.

Ternyata kondisi Ngastina ini berbeda 180 drajat dengan kahyangan Jonggring Salaka. Negerinya para dewa itu belakangan ini sedang geger dan panik gara-gara kekurangan air. Padahal di kahyangan tak ada yang mengalih-fungsikan lahan, tak ada penebangan hutan termasuk karhutla. Aneh bukan? Gara-gara kekurangan air Bethara Guru tak pernah mandi, kecuali sibin (dilap) dengan air Aqua galonan. Air PAM yang dialirkan ke Istana Bale Marcokunda crat-cret seperti kencing onta sedang anyang-anyangen.

“Kakang Narada, bagaimana kalau air dari ngercapada kita alirkan ke Jonggring Salaka?” ujar Prabu Duryudana dalam sebuah rapat kordinasi.

“Tak mungkin Adhi Guru, posisi kahyangan di atas ngercapada, bagaimana air bisa dialirkan ke atas? Pakai gorong-gorong raksasa juga tak mungkin,” jawab Bethara Narada.

Usut punya usut, berdasarkan pemeriksaan geologi pertambangan, krisis air di Jonggring Salaka gara-gara tindakan sabotase Prabu Udan Mintoya dari negeri Girikedhasar. Cupu surga berisi “Mustikaning Warih” sengaja dicuri dari Pejompongan, gara-gara lamarannya terhadap Dewi Mumpuni ditolak oleh Bethara Guru. Ke mana cupu disembunyikan, masih dalam penyidikan. Semoga saja tak dijual ke luar negeri.

“Kaco! Urusan asmara kenapa dipolitisir. Kakang Narada harus segera mencari jago, barang siapa berhasil mengalahkan Prabu Udan Mintoya, diberi hadiah menikah dengan Dewi Mumpuni,” perintah Bethara Guru sambil membersihkan daki di lehernya, maklum jarang terkena air.

“Siap Adhi Guru, tapi izinkan dulu saya bentuk tim.” Kata Bethara Narada.

“Halah, nggak usah, kelamaan tuh! Dikit-dikit bentuk tim, macam Gubernur DKI Jakarta saja ente.” Kecam Bethara Guru.