CUPU MUSTIKANING WARIH (1)

178 views

Prabu Udan Mintoya memang sedang bersakit hati. Kurang apa dia sebagai raja di Girikedhasar? Tampang gantheng macam artis sinetron sejuta episode, kekayaan hampir 90 persen dari hibah, keuangan di negerinya juga dinilai WTP oleh BPK. Kenapa kok masih ditolak juga ketika ingin mengawini Mumpuni? Apa harus menyogok dulu, untuk bisa “menyogok” bidadari primadona kahyangan Jonggring Salaka tersebut? Jika begitu prosedurnya, tinggal saja ngomong pastilah Prabu Udan Mintoya siap memenuhi.

Secara kebetulan, nama Prabu Udan Mintoya penuh makna. Udan artinya hujan, min = kurang, dan toya adalah air, karenanya bisa dimaknai bahwa hujan mengatasi kekurangan air. Karena ahli perhujanan itulah, Prabu Udan Mintoya jadi tahu bahwa sumber air di Jonggring Salaka kuncinya ada pada Cupu Mustikaning Warih. Sebagai balas dendam dia diam-diam menyabot pasokan air ke Jonggring Salaka, dengan cara mencuri cupu keramat dan berkhasiat tersebut. Efeknya sangat manjur, PDAM Suralaya mendadak macet, Jonggring Salaka kekeringan.

Bethara Narada yang ditugaskan mencari jago di ngercapada, siang itu ketemu Prabu Bathara Kresna raja Dwarawati sedang makan di RM Adem Ayem, dengan menu thengkleng dan sate kambing 50 tusuk. Bethara Narada diajak makan sekalian, tetapi menolak karena khawatir stroke-nya kumat. Maklum, patih kahyangan ini diam-diam ternyata penderita penyakit ludira inggil (darah tinggi).

“Kahyangan hari ini dalam kondisi genting. Jika ente bisa mengalahkan Prabu Udan Mintoya, hadiahnya sangat menarik dan bebas pajak Kementrian Sosial…..,” iming-iming Bethara Narada setelah bercerita panjang lebar tentang kondisi di kahyangan.

“Prabu Udan Mintoya itu apakah masih keluarga pembalap F-1 Juan Montoya dari Colombia, pukulun?” ujar Prabu Kresna sambil menyedot sungsum kaki kambing.