CUPU MUSTIKANING WARIH (1)

78 views
Patih Bethara Narada minta Prabu Kresna menyelesaikan kemelut di Jonggring Salaka.
- Advertisement -

NEGERI Ngastina, Pandawa, Dwarawati, Mandaraka dan Mandura tengah dilanda banjir besar. Semua pemimipin kerajaan itu sibuk mengatasi banjir, bagaimana agar banjir tak terjadi lagi dan rakyat tak terlalu lama menderita. Ini beda dengan Prabu Duryudana dari Ngastina. Tahu banjir sering datang belakangan, cukup diatasi dengan pembagian pengeras suara Toa di setiap kelurahan. Lurah wajib keliling wilayah, teriak-teriak pada warga untuk segera mengungsi.

“Ini gimana sih Prabu Duryudana,  bukannya mengantisipasi agar banjir tidak datang lagi, eh malah bagi-bagi Toa. Memangnya Toa bisa mencegah banjir?” ujar Durmagati, orang Ngastina yang selalu kritis pada pemimpinnya, meski itu kakak sendiri.

“Beli Toa sampai ribuan kan bisa dimanipulasi anggarannya, ini proyek yang sangat menguntungkan.” Sambung Kartomarmo, yang juga adik sang raja.

Jaman Ngastina dipimpin Prabu Pandu, jarang terjadi banjir karena punya patih yang tegas, Gandamana. Tapi patih itu akhirnya terpental dari posisinya gara-gara difitnah oleh Haryo Suman. Akhirnya yang menjadi patih Sengkuni didukung para kadrun Kurawa 100. Ketika Prabu Pandu meninggal serangan jantung, paket Duryudana – Patih Sengkuni semakin sempurna mengacak-acak negeri Gajahoya. Segala infrastruktur peninggalan Prabu Pandu dibongkar, karena katanya tak berpihak pada rakyat.

Patih Sengkuni sama konyolnya dengan raja junjungannya Prabu Duryudana. Ketika banjir tak bisa diatasi, enak saja dia bilang bahwa banjir itu sebaiknya dinikmati saja. Sebab manusia juga memiliki kandungan air 2/3 persen dalam tubuhnya, sehingga tiap hari mengeluarkan air. Dengan demikian kemungkinan besar penduduk Ngastina yang beser dan mencret punya andil besar atas banjirnya negeri ini.

“Memangnya penduduk Ngastina tak punya toilet di rumah masing-masing?” kata Prabu Dasamuka dari negeri tetangga, Ngalengkadiraja.

- Advertisement -