Menikmati Banjir Jakarta

305 views
Gubernur Anies pernah berjanji akan menciptakan "kolam" buat rakyatnya. Dan sekarang kolam raksasa itu telah terwujud.
- Advertisement -

SEJAK jaman Belanda Jakarta memang sudah akrab dengan banjir, gara-gara dilewati 13 aliran sungai. Pemerintahannya dari gubernur ke gubernur selalu mencoba mengatasi dengan berbagai kebijaksanaan. Biasanya, gubernur baru menyempurnakan kebjakan gubernur sebelumnya. Tapi hanya di era Gubernur Anies Baswedanlah kebijakan gubernur lama ditinggalkan karena yakin dengan konsepnya sendiri. Dan ketika banjir malah datang berjilid-jilid, orang-orang dekat gubernur harus mengatakan, nikmati saja banjir itu, karena banjir Jakarta adalah berkah dari doa gubernur soleh.

Ketika Jakarta dipimpin Gubernur Ahok BTP, demo terjadi berjilid-jilid karena banyak yang tak suka akan karakternya yang keras dan tegas. Tapi setelah gubernurnya digantikan Anies Baswedan, justru banjir yang datang berjilid-jilid. Sejak 1 Januari 2020 hingga Selasa 25 Februari lalu, banjir terjadi sudah 5 kali. Kerugian materi lebih dari Rp 1 triliun sementara korban jiwa puluhan orang.

Dari kacamata umum, banjir adalah musibah. Tetapi Wakil Ketua Bamus Betawi Rachmat HS, dalam talk show di TV swasta dia menilai bahwa banjir di Jakarta sejak 1 Januari 2020 itu sebagai berkah, karena datangnya selalu hari libur, sehingga pelayanan masyarakat tidak terganggu dan warga bisa lebih cepat mengantisipasinya. Lalu katanya, “Ini berkat doa gubernur  soleh Anies Baswedan.”

Luar biasa ini orang. Begitu banyak nyawa melayang, begitu banyak asset hancur bercampur lumpur, masih dianggap sebagai berkah? Ini benar-benar pemikiran orang tingkat sufi, yang mampu memaknai musibah sebagai berkah. Ini benar-benar tokoh yang punya kesabaran tingkat dewa, karena hadits Nabi pun mengatakan: Innalloha ma’a shobirin (Allah selalu bersama orang yang bersabar). Dalam Quran surat Arrahman juga berulangkali difirmankan, “Nikmat Allah apa lagi yang hendak kamu dustakan?”

- Advertisement -