BPJS-Kes Terancam Bubar

6.255 views
Jangan hanya rajin mendaftar ke BPJS-Kes ketika hendak berobat, setelah sehat lupa iuran.
- Advertisement -

DIRUT BPJS-Kesehatan (BPJS-Kes) dr Fahmi Idris pernah mengatakan, ikut BPJS-Kes tak ubahnya arisan. Satu orang penderita sakit biayanya didukung oleh 200-an peserta yang lain, sehingga jadi ringan. Dan inilah anehnya manusia Indonesia, gara-gara disebut “mirip arisan”, maka penyakit peserta arisan menular juga. Ketika sudah berobat dan sembuh, dia jadi males untuk membayar iuran selanjutnya.

Peserta arisan nasional BPJS-Kes itu jumlahnya ratusan juta, maka ketika jutaan orang malas bayar iruan, keuangan BPJS-Kes menjadi defisit. Pemerintah pun menutup kekurangan itu. Tapi nomboki BPJS-Kesehatan yang tekor melulu, capek jugalah. Maka pemerintah menaikkan iuran untuk peserta Mandiri sejak Januari 2020 sampai 100 persen. Ternyata sekelompok orang menggugat ke MA, dan dikabulkan. Walhasil, kenaikan iuran BPJS-Kes batal dan nasib lembaga jaminan kesehatan itu nantinya terancam bangkrut.

Peserta BPJS-Kes itu terdiri dari 3 macam: 1. Penerima Bantuan Iuran (PBI) yakni keluarga miskin yang ditanggung Kementrian Sosial. 2. Peserta Penerima Upah (PPU) yakni para pekerja baik negeri (ASN) mapun swasta. 3. Peserta  Bukan Penerima Upah (PBPU), mereka membayar sendiri tanpa tanggungan kantor atau perusahaan. Karena masuknya BPJS-Kes lantaran kesadaran sendiri maka disebut juga peserta Mandiri.

Ternyata peserta jenis ini yang bikin BPJS-Kes jadi defisit anggaran dari tahun ke tahun. Mereka jadi peserta kebanyakan hanya karena menderita penyakit kelas berat. Maka baru bayar iuran beberapa kali sudah klaim berobat sampai ratusan juta. Dan karena ikut BPJS-Kes direken seperti arisan, begitu sudah sembuh dari sakitnya jadi malas bayar iuran.

Untuk yang peserta jenis PBI dan PPU pembayaran lancar, sehingga petugas BPJS-Kes tak perlu pakai PPO. Tapi yang peserta Mandiri ini, bikin keuangan BPJS-Kes defisit dari tahun ke tahun. Lalu pemerintah menutup kekurangan itu. Maka jika prediksi defisit itu tergambar seperti ini. Tahun 2019 sebanyak Rp 32,8 triliun, tahun 2020 sebanyak  Rp 39,5 triliun, tahun 2021 Rp 50,1 triliun, tahun 2022  Rp 58,6 triliun, tahun 2023 Rp 67,3 triliun, dan 2024 : Rp 77 triliun.

- Advertisement -