KALIMASADA SEWU

70 views
- Advertisement -

DUNIA perwayangan sedang heboh dan panik. Makhluk dari ngarcapada hingga kahyangan Jonggring Salaka banyak terpapar virus mematikan bernama Corona atau Covid-19. Dampaknya luar biasa, baik secara vertikal maupun horizontal. Komoditas yang disebut bisa menangkal virus tersebut, langsung melangit harganya. Bagaimana mungkin, jahe dan temulawak harga perkilonya sampai Rp 125.000,- Lima kali lipat dari harga normal Rp 25.000,- Itu pun tak selalu ada barangnya.

Banyak dewa yang diopname karena suspect Covid-19. Maka Betara Guru jadi semakin rajin minum jamu temulawak-jahe, sehari 3 kali ukuran gelas es. Begitu juga wayang ngercapada ke mana-mana mulutnya diberi jilbab. Gara-gara semua wayang berebut masker, harga masker perdos sampai Rp 300.000.- Bahkan di internet ditawarkan Rp 31 juta.

“Kakang patih Narada, sebelum ditemukan obatnya, cari apa penyebabnya wabah ini menjalar ke Jonggring Salaka. Bagi masker ke segenap dewa.” Instruksi komandan dewa di kahyangan itu.

“Stok masker habis. Kini dewa dan rakyat ngercapada banyak yang pakai slampek dibentuk segitiga lalu diikatkan ke wajah.” Jawab Patih narada soal kreativitas wayang.

Tak berapa lama masuk laporan bahwa wabah Covid-19 itu merebak berawal dari diterbitkannya buku “Kalimasada” secara liar dan massif. Padahal kertas yang dipakai asal-asalan, mengandung virus mematikan itu. Setiap pembacanya akan terkena, dan kemudian menular pada keluarganya yang lain. Demikianlah, wabah Covid-19 meluas secara deret ukur, berkelipatan dari 5 jadi 25, 625, dan seterusnya.

Selama ini buku Jamus Kalimasada hanya terdiri satu buah, dan dikuasai oleh raja Ngamarta Prabu Puntadewa. Tiba-tiba sekarang tersebar begitu masif. Yang asli terbitan Bale Martjakoendha, Jonggring Salaka, dengan editor Bethara Penyarikan. Adapun edisi  abal-abal bikinan Prabu Condroadi dari negara Kalong Gemantung. Wujud memang sama persis, tapi yang jiplakan sudah ejaan baru. Hurup u dan c bukan lagi oe dan tj lagi.

- Advertisement -