KARUNA MINTA JIWA

3.397 views
Patih Sengkuni marah sekali pada Pendita Durna, sehingga ditantang duel.

BIASANYA sebulan sekali Istana Gajahoya di negeri Ngastina menggelar pasewakan agung dengan dihadiri para pejabat dan kawula alit. Di depan, Prabu Duryudana duduk semeja bersama Patih Sengkuni, Pendita Durna, Prabu Baladewa, Adipati Karno dan Kartomarmo. Baris belakangnya ada Dursasono, Durmagati, Citraksa dan Citraksi, dan belakangnya lagi pada tumenggung dan rakyat biasa.

Tapi gara-gara wabah Corona, acara pasewakan agung ditiadakan. Jika ada pertemuan penting cukup Prabu Duryudana berikut Patih Sengkuni, Pendita Durna, Adipati Karno. Prabu Baladewa yang takut kena virus Covid-19, memilih absen tak menghadiri pertemuan itu. Beliaunya tak mau jadi korban ke-135 virus Corona di negeri Ngastina. Peserta sidang pun semua pakai masker, bolehnya pesan ke Pemprov DKI Rp 300.000,- perdus.

“Nama Corona jadi momok rakyat. Bagaimana jika nama itu diganti yang lebih halus, agar tidak menyeramkan. Siapa punya usulan nama bagus?” Usul Prabu Duryudana.

“Oke kalau begitu. Saya usulkan Corona di Ngastina jadi “karuna” saja, artinya menangis. Orang memang banyak yang menangis gara-gara Corona. Ada yang kehilangan nyawa, kehilangan penghasilan.” Jawab Pandita Durna yang memang ahli sastra di negeri itu.

Forum ternyata menyetujui secara bulat. Tapi dengan mengganti nama apa lalu masalah jadi selesai? Jelas tidak, karena harus ada upaya antisipasi dan pencegahan. Oleh karenanya, diilhami Pemda Belitung yang menanggulangi Corona dengan mengerahkan paranormal, Prabu Duryudana kemudian menugaskan Pandita Durna untuk meneges (mencari tahu) pada dewa, apa sebetulnya obat penyembuh “karuna” versi Ngastina. Maklum, di Ngastina, pejabat penting yang punya koneksi langsung atau link ke Jonggring Salaka itu hanya Pendita Durna.

“Kok mesti saya lagi. Yang lain pada ke mana, anak prabu?” protes Pendita Durna kepada Prabu Duryudana.