YAMADIPATI GUGAT

134 views
Bethara Yamadipati keluarkan termometer laser untuk mendeteksi suhu tubuh Koronawati dan Bethara Surya.

DALAM dunia perwayangan sudah menjadi rahasia umum bahwa Betara Surya merupakan dewa bermata keranjang. Setiap melihat wayang perempuan yang cantik, ukuran celana dalamnya mendadak berubah dari M jadi XL. Tapi anehnya, meski kahyangan Jonggring Salaka gudangnya bidadari cantik, dia tak berselera. Dia baru nafsu pada para perempuan ngarcapada. Maka setiap ada pemilihan Putri Indonesia, dia pasti menyelinap di antara para dewan juri, agar bisa melihat lenggang lenggok para peserta.

Dalam urusan perempuan, dia tak pernah ada kapoknya. Dulu skandalnya pada Dewi Kunthi dari Mandura terkuak gara-gara putri Prabu Kuntiboja itu tiba-tiba hamil. Meski Bethara Surya tanggungjawab, tapi Sang Prabu tak mau putrinya melahirkan secara konvensional. Anak tetap lahir, tapi emaknya harus tetap perawan. Jika tidak bisa skandal ini akan dilaporkan ke kahyangan, pada Bethara Guru. Resikonya, Bethara Surya harus dihukum masuk kawah Candradimuka, nerakanya kaum perwayangan.

“Oke kalau begitu, Prabu Kunthiboja. Nanti putrimu tetap perawan, bayi itu nanti lahir lewat telinga.” Kata Bethara Surya enteng saja.

“Bagaimana mungkin? Memangnya lobang telinga seperti pralon 4 inc?” protes Prabu Kuntiboja.

“Tenang saja, bagi kalangan dewa itu hal mudah. Otak ente belum nyampe teknologi begituan.”

Skandal di Mandura berhasil diselesaikan, anak Dewi Kunthi lahir lelaki benar-benar lewat telinga dan diberi nama Karno aliat Suryatmaja. Mestinya setelah kesandung kasus demikian, Bethara Surya bertindak hati-hati. Tapi ternyata tidak, dia terus berburu cewek. Gangguin anak raja takut jadi masalah, kini sasarannya artis-artis termasuk peserta Putri Indonesia.

Hanya beberapa minggu pasca nonton pemilihan Putri Indonesia, di mana ada peserta yang gagap menyebut teks Pancasila, terjadi bala bencana di kahyangan. Para dewa banyak yang terkena penyakit misterius. Ciri-cirinya batuk-batuk berkepanjangan disertai panas badan 40 drajat dan sesak napas. Tidak bikin mati, karena dewa memang bebas dari kematian. Tapi sekujur badan jadi gatal-gatal seperti habis kena krawe. Diobati minyak tawon juga tak kunjung sembuh, bahkan kalau digaruk jadi merah dengan bentuk seperti Kepulauan Sunda Kecil NTT dan NTB.