Menghina Ibunda Presiden

8.238 views
Presiden Jokowi mengantar jenasah Ibunda, Ny. Sudjiatmi Notomihardjo ke temat peristirahatan terakhir.

TANPA melihat statusnya, menghina kepada siapa saja tidak boleh, apa lagi pada seseorang yang sudah meninggal. Agama apapun melarang hal demikian. Tapi ketika ibunda Presiden Jokowi berpulang di Solo Rabu 25 Maret 2020 lalu, ada sekelompok netizen yang “lambe nggambleh” menghina almarhumah Ny. Sudjiatmi Notomihardjo. Tidak suka pada seseorang boleh saja, tapi jangan diumbar di jagad medsos yang tanpa sensor. Kini lihat akibatnya, sebagian dari mereka terkencing-kencing dicomot polisi, bahkan ada yang menggunakan koneksi untuk meloloskan diri dari jeratan hukum.

Semenjak ada medsos, Indonesia geger terus. Sedikit-sedikit dikomentari netizen gatal jari, sedikit-sedikit unggah berita hoaks. Pada media massa konvensional keluhan masyarakat bisa ditampung di Surat Pembaca. Di situ ada bagian redaksi yang menyensor bahasa dan  kontennya. Bila isinya mengganggu ketertiban umum atau menghina seseorang, diedit kembali atau sama sekali tidak dimuat. Itu untuk menjaga kredibilitas suratkabar itu sendiri, termasuk juga menjaga nama baik pihak yang terlibat dalam Surat Pembaca tersebut.

Tapi di media sosial sekarang ini, hanya modal jari yang habis dipakai ngupil lagi, dengan bahasa belepotan, seseorang bebas mempublikasikan apa yang jadi uneg-unegnya. Tanpa konprensi pers, tanpa kirim Surat Pembaca di suratkabar. Saking bebasnya, banyak pula berita hoaks diunggah, karena dia akan merasa bangga bila menjadi viral. Padahal sudah banyak yang masuk penjara gara-gara ujaran kebencian di medsos. Ada yang karier suami di TNI terhambat gara-gara istri asal jeplak di medsos, ada pilot yang dicopot, banyak pula PNS yang diberhentikan gara-gara main-main dengan medsos.

Pengguna medsos ini sebagian besar orang-orang yang tidak suka membaca, jangankan buku tebal, baca kertas bungkus teh saja tak pernah. Karenanya tak punya informasi pembanding dari berita yang diterimanya. Apa saja yang diterima di medsos, ditelan begitu saja, padahal makan obat saja pakai bantuan air teh atau pisang. Dan ketika apa yang ditulisnya di medsos jadi masalah, dia akan blingsatan kerepotan sendiri. Meski sudah menyesali perbuatannya, tapi tembok penjara pun membayang di mata.