Corona Berujung Kafir?

27.479 views
Ilustrasi Mulut jalan di daerah Sregen (Jateng) juga dipasangi rambu-rambu bahwa telah melakukan lockdown kampung.

VIRUS Corona itu makhluk nyaris tak berbentuk saking kecilnya. Tapi ketika menjadi wabah yang mematikan, bisa merusak tatanan di segala lini. Napi bisa dibebaskan masal, cicilan kredit ke bank bisa diundur. Bahkan, salat Jumat pun bisa ditiadakan, meski harus menggantinya dengan salat dzuhur. Tapi ingat, jika tak salat Jumat sampai 3 kali tanpa terhalang Corona, atau sengaja meninggalkannya karena malas belaka, sudah masuk kategori orang kafir!

Di kalangan masyarakat Jawa, biarpun beragama non Islam banyak yang dikhitan juga. Tapi jika keluarga Islam sudah gede belum juga sunat, orangtuanya akan menakut-nakuti dengan kata-kata ini, “Arep dadi wong kapir apa (mau jadi orang kafir ya)?” Pengertian umum, kafir adalah tidak mengenal Tuhan, atau atheis dalam Bahasa Inggris. Terminologi kafir cukup sampai di sini, sebab jika diperdebatkan bisa melebar ke mana-mana.

Gara-gara wabah Corona atau Covid-19, stigma kafir  menghantui sebagian umat Islam. Sebab sejumlah hadits nabi mengatakan, tiga kali berturut-turut tak menjalankan salat Jumat, bisa disebut telah membuang Islam di punggungnya, atau masuk golongan kaum munafikun. Tak kalah ngeri, mereka yang meninggalkan salat Jumat karena meremehkan, maka dia telah dikunci hatinya oleh Allah. Bayangkan, implikasi Corona bukan saja lockdown, tapi bisa juga lockheart!

Dikunci hatinya, kaum munafikun dan membuang Islam ke punggung, dalam bahasa populernya bisa disebut kafir. Padahal dalam Islam, sanksi orang kafir adalah dimasukkan ke dalam api neraka atau narun khamiyah. Bagi orang Islam pemeluk teguh, sanksi semacam itu sangat menggetarkan jiwa. Sama bergetarnya dengan Gubenur DKI ketika mendengar kabar 283 warga ibukota meninggal karena diduga terpapar Corona. Bayangkan, baru diduga saja bergetar, apa lagi jika sudah pasti, klenger ngkali ya?