ASWATAMA GANDRUNG (2)

64 views
Pendita Durna tertawa melihat bagaimana Patih Udawa gandrung. Padahal itu sebenarnya Aswatama putra sendiri.

BETARI Durga geleng-geleng kepala. Kawula ngercapada sudah kadung salah kaprah menilai dirinya. Mentang-mentang copotan dewa di kahyangan, dianggapnya dia penguasa yang mampu mengatasi masalah tanpa masalah. Padahal soal begituan kan monopoli kantor Pegadaian. Jika dipikir secara jernih dan mengacu pada data, siapa pun yang dibantu Bethari Durga justu gagal total di ujung cerita.

Kini Aswatama hadir, ingin dimunculkan sebagai “kuda hitam”. Jika dilihat dari sejarahnya sih, sebetulnya tidaklah susah-susat amat, karena ibu dia sendiri sebetulnya seekor kuda, penjelmaan Dewi Wilutama yang telah terkena kutuk dewa. Bedanya adalah, Dewi Wilutama kuda yang bisa terbang, sehingga dijadikan merk pabrik cat. Sedangkan Aswatama nanti, karena tidak bisa terbang paling-paling-paling jadi kuda hitam yang dijadikan merk pabrik residu, yakni aspal encer untuk anti rayap.

“Maksud saya kudu hitam dalam arti pemenang, Eyang Bethari. Bukan kuda hitam dalam arti sebenarnya.” Aswatama mencoba protes.

“O, begitu. Ulun jadi gagal paham nih.” Jawab Betari Durga terpusi-pusi.

Demikianlah, Aswatama dibawa masuk ke sebuah ruangan khusus nan gelap, mirip ruang karantina pemudik yang bandel di musim PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Saat keluar setengah jam kemudian, dia sudah berubah wujud menjadi Patih Udawa dari Dwarawati. Cuma Udawa KW-2 ini lebih kurus karena di masa kecilnya dia memang kurang gizi.

Apa yang terjadi di ruang gelap tersebut, semuanya serba gelap. Sesuai dengan stigma Bethari Durga sebagai tokoh markus sekelas eks Sekretaris MA Nurhadi, bisa saja di dalam sana telah terjadi pembagian “kardus”. Isinya berupa uang berjuta-juta, bukannya sekedar Sembako senilai Rp 149.500 sebagaimana BLT warga miskin dari Pemprov DKI Jakarta.