BALADEWA TUMBAL (1)

94 views
Prabu Duryudana memimpin sidang Sabtu Kliwonan dihadiri Pendita Durna dan Patih Sengkuni saja.

VIRUS Corona memang luar biasa. Gara-gara dhalangnya terpapar Covid-19, wayang-wayang dalam kotak juga mayoritas positip Corona. Dan penyebarannya begitu cepat, karena dalam kotak tak ada physical distancing. Maklum, wayang dalam kotak semuanya ditumpuk jadi satu. Jika ada sekatan hanyalah eblek sebagai alas wayang. Maka jika wayangnya jarang dijemur, Covid-19 pun menyebar dengan sempurna.

Negara Ngastina yang masih dikuasai Prabu Duryudana, juga terpapar pandemi Corona. Tiap sore Patih Sengkuni mengumumkan jumlah korban, dari yang PDP (Pasien Dalam Perawatan), PDS (Pasien Dinyatakan Sembuh) sampai PDB (Pasien Dalam Bandosa) alias meninggal. Dana Bansos mengalir ke rakyat kelas bawah, meski anggarannya sabet sabet sini. Namanya re-alokasi anggaran. Demi mengumpulkan dana Ro 300 triliun, Ngastina harus menunda sejumlah proyek bergengsinya, dari jalan layang, bandara baru, sampai pemindahan istana Gajahoya ke Kurawa Village.

“Bagaimana paman Sengkuni, PDP Corona ada trend menurun nggak?” Prabu Duryudana bertanya dalam sidang selapanan hari Sabtu Kliwon, hari kelahiran Jaka Pitana, alias Duryudana muda.

“Gawat anak prabu, kecenderungannya malah naik. Habisnya bala Kurawa susah untuk diajak berdisiplin, maunya diselipin. Diminta untuk physical distancing (jaga jarak) dengan wayang lain, susah banget. Apa lagi yang pacaran, maunya nempel terus macam prangko,” jawab Patih Sengkuni sambil pegang kertas daftar korban Corona.

Nama Patih Sengkuni belakangan makin ngetop saja, tiap sore wajahnya muncul di TV nasional dan swasta. Kata-katanya monoton, jumlah PDP sekian, PDS sekian, dan yang PDB sekian. Angka-angka dalam PDB ini yang bikin rakyat Ngastina ngeri, karena khawatir dirinya suatu saat beri andil angka yang diumumkan Patih Sengkuni. Gara-gara setiap sore mengabarkan berita kematian, rakyat menggelarinya “Burung Gagak” dari Plasa Jenar.