BALADEWA TUMBAL (1)

159 views

Soalnya wayang-wayang dalam kotak itu juga punya kepercayaan, manakala ada suara burung gagak bersahutan dekat rumah, pertanda ada wayang mau meninggal. Dan itu semua meyakini, karena selalu terbukti. Karenanya setiap melihat burung gagak dekat rumah selalu diusirnya dengan ketapel.

“Paman Durna, ada petunjuk belum dari dewa di Jonggring Salaka, apa obat penyembuh Covid-19 yang manjur, murah tapi meriah.” Giliran Pendita Durna ditanya Prabu Duryudana.

“Nggak ada, anak prabu. Para dewa sendiri kini sibuk cari penangkalnya. Meski mereka bebas kematian, tapi kalau tiap hari krik-krikan  karena kegatelan seluruh badan, tersiksa juga.” Jawab Pendita Durna sekenanya.

Dalam sidang selapanan di Ngastina ini hanya dihadiri tokoh penting terbatas. Selain Pendita Durna dan Patih Sengkuni, tokoh lain seperti Adipati Karno dan Prabu Baladewa kali ini sama sekali tidak diundang. Di istana Gajahoya ini semua jaga jarak, antara 3-4 meter. Wajah mereka juga semua pakai masker harga Rp 5.000,- bolehnya beli di K-5 Tanah Abang.

“Anak Prabu, kenapa anak angger Mandura dan Ngawangga tidak diundang serta.  Biasanya mereka datang paling duluan.” Patih Sengkuni mencoba bertanya.

“Justru karena itu paman Sengkuni, berat saya untuk mengatakan….” Jawab Prabu Duryudana tertunduk lesu, dari kaset terdengar gending Tlutur, pertanda wayang sedang sedih atau berkabung.

Dengan terbata-bata Prabu Duryudana mengatakan, menurut petunjuk dewa yang potong kompas ke Gajahoya tanpa melalui jalur Sokalima (Pendita Durna), negri Ngastina baru terbebas dari wabah Corona manakala ditumbali wayang berkulit putih. Padahal semua tahu, baik dalang dan penonton wayang, tokoh perwayangan yang berkulit putih itu satu-satunya hanyalah Prabu Baladewa dari Mandura yang biasa pula dipanggil sebagai Sang Balarama.