BALADEWA TUMBAL (1)

160 views

Ya karena itulah Prabu Duryudana dalam sidang Sabtu Kliwonan kali ini tanpa menghadirkan Prabu Baladewa. Adipati Karno juga tak dihadirkan, karena nggak enak hati. Sebab jika Adipati Karno mendengar rahasia ini, dikhawatirkan akan di-sharing ke Mandura. Bagaimapun juga mereka kan masih beripar, karena Surtikanti istri Adipati Karno adalah adik Dewi Erawati yang dipersunting Prabu Baladewa. Dan Prabu Baladewa tak mau petunjuk dewa itu malah bikin geger. Prinsipnya adalah, kena iwake aja nganti buthek banyune (kena ikannya tanpa bikin keruh airnya).

“Anak prabu Duryudana, kalau boleh tahu siapa dewa yang ujas-ujus (nyelonng saja) kasih info ke Gajahoya tanpa mengikuti Protap (prosedur tetap) yang disepakati selama ini?” pendita Durna tanya kembali, nadanya agak emosi.

“Bethara Guru langsung paman Durna, lewat WA saja.” Jawab Prabu Duryudana.

Oo, pantes! Dewa yang jadi raja di Jonggring Salaka ini memang dikenal suka melanggar prosedur, maunya cepat tanpa aturan yang berlete-lete. Padahal dalam tata kelola pemerintahan kahyangan yang bersih, semua harus dirembug bersama, tidak boleh diputuskan sendiri. Dan karena sikap SBG (Sanghyang Bethara Guru) kewibawaan Pendita Durna jadi tergradasi. Nantinya ketegantungan Kurawa pada dirinya jadi tereliminasi hingga titik kulminasi.

Sekarang Prabu Duryudana berdiskusi dengan Patih Sengkuni dan Pendita Durna, bagaimana caranya menyampaikan petunjuk dewa itu kepada Prabu Baladewa tanpa menimbulkan gejolak mental. Siapa kira-kira tokoh yang layak jadi penyampai berita yang tidak mengenakkan itu. Sebab yang namanya dibuat tumbal, pastilah wayangnya harus dibunuh, lalu kulitnya yang berwarna putih itu dijemur selama 40 hari, persis orang bikin rambak atau krecek.

“Saya kira melalui Prabu Salya mertuanya saja anak Prabu.” Saran Patih Sengkuni, sepertinya yakin betul.