BALADEWA TUMBAL (2)

100 views
Prabu Baladewa dengan emosi menjelaskan kepada Kresna, ancaman Ngastina terhadap dirinya.

HAMPIR saja Pendita Durna-Patih Sengkuni ribut dalam sidang selapanan di Istana Gajahoya, untung saja Prabu Duryudana berhasil menetralisirnya. Kedua pejabat penting itu diminta duduk manis di tempat masing-masing dan tetap jaga jarak. Bikin malu anak cucu kan, wayang sudah tua-tua begitu masih suka ribut macam anak SD saja.

Tapi bagi kalangan pengamat wayang, kelakuan Durna-Sengkuni dari dulu memang begitu. Sama-sama anggota “kabinet” tapi mereka hanya membawakan misi pribadi, bukan misi raja Ngastina. Maka keduanya suka saling kritik di depan publik. Akibatnya isyu di sekitar Istana Gajahoya gaduh terus, sampai dibuat tertawaan Durmagati yang posturnya seperti ikan buntal maha beracun itu.

“Paman Sengkuni kan sudah digaji tinggi, mestinya fokus pada tugas kepatihan, jangan ngobyek melulu….,” sindir Durmagati sekali waktu.

“Dur, kamu jangan sok pintarlah. Kalau pinter kamu, mestinya yang jadi patih kamu, bukan saya. Baru jadi anggota DPR saja lagaknya sudah bukan main. Tak usulkan recal, modiar kamu!” ancam Patih Sengkuni saat pegelaran njaba (pertemuan di luar Istaana).

“Ho, ho, ho, gitu saja nesuuu (marah)….” Jawab Durmagati cengengesan.

Durmagati ini memang vokalis di Ngastina, hobinya nyinyir terhadap kebijakan pemerintahan Prabu Jokopit (kependekan Joko Pitono). Apa saja dari urusan dinas sampai pribadi raja Ngastina, tak lepas dari kenyinyirannya. Padahal Durmagati ini bisa terpilih jadi anggota DPR juga karena dia adik kandung Prabu Duryudana alias Jokopit tersebut. Maka saking jengkelnya publik, Durmagati dijuluki di medsos sebagai “ikan buntal maha beracun”. Soalnya dulu hanya kurus pendek saja, tapi setelah duduk DPR jadi gemuk sekali, sehingga mirip ikan buntal.

Demiakianlah, karena Durna dan Sengkuni tak sanggup jadi penyampai berita kepada Prabu Baladewa raja Mandura, akhirnya berita panggilan Prabu Duryudana ini hanya disampaikan lewat SMS saja. Yang kirim Prabu Duryudana sendiri. Maklum, meski pejabat tinggi negara raja Mandura ini masih gaptek, tidak paham WA dan sejenisnya. Padahal, selama Lebaran ini ucapan Idul Fitri numpuk di HP Prabu Baladewa, tak sempat terbaca karena saking banyaknya.