Jumat , 15 Desember 2017
Home > Parni Hadi (page 11)

Parni Hadi

Alergi Revolusi

Perang melawan tentara penjajah Belanda antara tahun 1945-1950 untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam buku sejarah Indonesia disebut Perang Revolusi. Perang itu mencatat pertempuran yang menunjukkan heroisme tinggi pejuang Indonesia di Surabaya pada tanggal 10 November 1945, yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Jaman itu disebut jaman revolusi, karena terjadi perubahan dahsyat dalam tatatan kehidupan bangsa Indonesia: dari …

Read More »

Pahlawan: Refleksi dan Proyeksi

Banyak makna yang ditangkap dari menyaksikan tayangan upacara di layar televisi. Kepala sama hitam, isi pikiran berlainan. Termasuk yang agak lain adalah apa yang ada dibenak pemuda Anies Baswedan, sekarang Profesor Doktor dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. “Dulu, dalam upacara pengibaran bendera di Istana Merdeka tanggal 17 Agustus tampak banyak orang berseragam dengan peci warna kuning kunyit (seragam legiun …

Read More »

Bahasa dan Bangsa adalah Satu

Mengapa bahasa Indonesia yang dipilih sebagai bahasa persatuan dalam kongres pemuda yang melahirkan Sumpah Oktober 28 Oktober 1928? Mengapa bukan bahasa Jawa, yang jumlah pengunanya terbesar di antara suku-suku bangsa penduduk Hindia Belanda (nama yang dipakai Belanda) waktu itu? Siapakah tokoh yang mula pertama memelopori lahirnya bahasa Indonesia? Untuk pertanyaan ketiga tersedia jawaban yang oleh sejumlah pihak masih dianggap asumsi …

Read More »

“Di Sinilah Aku Berdiri”

Indonesia Raya: Di sini lah aku berdiri…. /Indonesia, tanah airku/tanah tumpah darahku. Di sana lah aku berdiri, menjadi pandu Ibuku/ Demikian bunyi syair pembuka lagu kebangsaan Indonesia Raya. Karya komponis Wage Rudolf Supratman itu diperkenalkan pertama kali dalam permainan biola tanggal 28 Oktober 1928 pada Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda. “Di sana lah aku berdiri” membuktikan bahwa WR …

Read More »

Etnis Tonghoa dan Sumpah Pemuda

Gedung yang sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya No 106, Jakarta Pusat, itu dulu milik seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liong. Di sanalah, di gedung itu, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dibacakan. Tercatat empat orang Tionghoa turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda II ketika pembacaan sumpah itu, demikian menurut buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”, mengutip …

Read More »

Mengapa Tanah Tumpah Darah?

/Indonesia, Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku/. Demikian bunyi bait pembuka lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu itu diperkenalkan pertama kali oleh komponis Wage Rudolf (WR) Supratman dengan permainan biola pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Kongres Pemuda itu melahirkan pernyataan sikap yang kemudian dikenal sebagi Sumpah Pemuda. Berdasarkan bukti kuat yang ada, Sumpah Pemuda diilhami atau kuat dipengaruhi oleh …

Read More »

Mengapa Disebut Tanah Air?

Tanah air adalah ungkapan untuk menyebut sebuah negeri atau negara. Mengapa disebut tanah air? Kenapa tidak tanah saja? Apakah ungkapan itu mengandung maksud bahwa tanah dan air tidak dapat dipisahkan? Memang, air berada di dalam tanah. Tapi, itu tidak berarti air berlimpah ruah dan mudah didapat di negeri ini di sembarang tempat dan waktu. Kecuali, dalam musim penghujan. Apalagi, ketika …

Read More »

Ilmu Garam dan Ilmu Gincu

Ilmu garam dan ilmu gincu bermula dari ungkapan Bung Hatta, co-proklamator dan wapres pertama RI, tahun 1976 dalam rangka mendidik umat Islam Indonesia agar lebih arif dalam memperjuangkan cita-cita politik Islam. Kedua ilmu itu disosialisasikan lebih lanjut olehProf. Dr. Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, dalam bukunya “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”. Buku itu diterbitkan dua kali. Edisi pertama …

Read More »