Belajar dari Penerima Manfaat

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke klinik LKC (Layanan Kesehatan Cuma-cuma) Dompet Dhuafa di Ciputat. Saya bertemu dengan seorang kakek yang usianya sekitar 70-an.

Ramah sekali beliau menyapa, namanya Pak Agung. Awalnya saya fikir dia akan meminta bantuan. Tetapi ternyata dugaan saya salah. Dia menceritakan pengalamannya semasa muda melang-lang buana ke mana-mana.

Beberapa bahasa daerah di mana ia pernah tinggal sempat dia kuasai seperti  bahasa Jawa, Batak, Aceh, Palembang, Minang, Sunda, bahkan Bugis.

“Bagi bapak, ke LKC ini bukan sekedar mengecek kesehatan, akan tetapi juga bersilaturrahmi dengan orang-orang dhuafa yang datang ke sini, dengan dokter dan perawat yang ramah hati,” kisahnya ke saya.

Pak Agung mengaku, ia sering bertanya kepada para dhuafa yang datang ke LKC tentang kesehatannya. Ia pun berdoa untuk setiap orang yang ditanyanya, agar diberikan kesehatan oleh Allah SWT.

Sepanjang percakapan saya dengan Pak Agung, ada satuhal yang sangat menarik dari kisahnya, di mana ia sudah lama hidup dan sudah merantau ke mana-mana. Alhamdulillah, katanya, Ia tidak pernah meminta uang sepeserpun dari anaknya.

Bagi Pak Agung, Ia yakin sekali akan ada selalu rejeki dari Allah SWT, asal kita pandai bersyukur.

Pak Agung menceritakan bahwa Ia punya kenalan seorang pengusaha real estate, sembari melihatkan nomor handphone-nya. Ia mengatakan, jika anak pengen beli rumah, bapak telponkan dia, nanti insha Allah akan diberikan diskon yang besar.

Awalnya saya pikir dia membual, akan tetapi ternyata ia benar. Sesaat kemudian ia menelpon pengusaha real estate tersebut. Yang saya herankan kenapa bapak ini menjadi istimewa bagi pengusaha real estate itu.

Keheranan saya, terjawab ketika saya tanyakan kepadanya. Ternyata ia sering membantu warga yang hendak menjual tanah, daripada jatuh ke tangan tengkulak. Ia mengarahkan ke pengusaha yang suka membantu rakyat miskin ini. Pengusaha ini membeli tanah warga dengan harga wajar, bahkan lebih tinggi dibandingkan penawaran orang lain.

Sering kali Pak Agung mendapat komisi dari upaya membantu orang dhuafa itu, namun ia mengaku sering menolaknya. Ada beberapa kali ia menerima, tapi hanya ia menerima seperlunya saja. Ia lebih memilih bersyukur dari pada mendapat imbalan di dunia ini, karena dengan bersyukur Allah akan mencukupkan dan bahkan melebihkan nikmatnya.

“Jika anak selalu bersyukur dalam hidup ini, pasti akan selalu merasa cukup, jika kurang bersyukur maka anak akan merasa selalu kurang bahkan sempit,” nasihatnya.

Berrrr! Nasihat dari Pak Agung ini membuat hati saya terpukul, sejauh ini saya merasa belum maksimal mensyukuri nikmat Allah SWT, mungkin karena itu hati saya selalu gundah dan selalu merasa kurang. Trimakasih Pak Agung semoga Allah SWT mempertemukan kita di surganya nanti. – Riko Onki Putra, Manager Program Dompet Dhuafa Singgalang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Anti Bot *