Pancasila di Mana Saktinya?

Berbicara tentang kesaktian di era digital teknologi kini bisa membuat orang tertawa geli. Hal itu dianggap kuno atau “jadul” (jaman dulu). Sekarang orang maunya minta bukti yang bisa diverifikasi. Juga kalau orang bicara tentang kesaktian Pancasila, idelogi dan dasar negara RI.

Pancasila seperti yang sering kita dengar, tulis, baca dan ucapkan dianggap tak lebih dari susunan kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf. Apa saktinya? Pancasila bukan mantra, tapi sebuah ideologi, yang digali oleh Soekarno (Bung Karno) dari khasanah budaya Indonesia.

Ketika tanggal 1 Oktober, sehari setelah G30S/PKI 1965 ditumpas TNI, dinyatakan  sebagai Hari Kesaktian (Hapsak) Pancasila oleh Jendral Soeharto, banyak orang bertanya-tanya, apa ini? Dalam kepercayaaan Jawa dikenal benda tertentu seperti pohon besar, batu, gunung  dan, apalagi pusaka, mempunyai ruh yang mengisinya.

Lha ini, susunan huruf  yang membentuk kata-kata Pancasila juga diberi ruh agar dapat dikatakan sakti. Artinya bisa suci, keramat dan bertuah. Karena itu, jangan berlaku sembarangan terhadapnya. Orang sakti dipahami sebagai orang yang tidak mempan ditembus peluru dan senjata tajam. Tak bisa dikalahkan atau tidak mudah bisa mati.

Penetapan Hapsak Pancasila adalah salah satu bentuk komunikasi politik ala (budaya) Jawa. Komunikasi adalah perihal penyampaian pesan. Politik adalah perihal mengenai pembentukan dan penggunaan kekuatan. Kekuatan sama dengan kekuasaan. Jadi, komunikasi politik dalam rumusan yang mudah dipahami orang awam adalah semua ihwal tentang penyampaian pesan yang berhubungan dengan upaya untuk merebut, menggunakan dan mempertahankan kekuasaan.

Karena dianggap sebuah produk politik, maka di media sosial ada orang yang berani menulis bukan Kesaktian Panacsila, tetapi Kesakitan Pancasila. Kebetulan jumlah karakter dalam kedua kata itu sama, tinggal memindah letak huruf i dan t saja. Lebih berani lagi, ada yang menulis Hari Kesaktian Soeharto. Maksudnya, jendral dan Presiden Soeharto yang bisa berkuasa 30 tahun lebih.

Prof. Kaelani dari Universitas Gajahmada dalam acara Hapsak Pancasila ke 50 di Jakarta yang digelar bersama oleh 23 organisasi pendukung Pancasila Rabu lalu, menjelaskan, kesaktian adalah semiotika. Artinya, Pancasila tetap relevan dan koheren dengan perkembangan jaman sampai sekarang di tengah persaingan berbagai ideologi dunia.

Jendral TNI Purn. Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden RI, sebagai penasehat  panitia penyelenggara, mengingatkan Pancasila telah selamat dari rongrongan berbagai ideologi lain yang  menentangnya, antara lain komunisme melalui dua kali pemberontakan PKI 1948 di Madiun dan G30SPKI 1965. Namun, ia mengingatkan pula Pancasila kini sedang menghadapi bahaya yang tengah berkibar  di kancah perpolitikan Indonesia, yakni liberalisme.

Try , yang juga penasehat Gerakan Pemantapan Pancasila (GPP), menyerukan kaji ulang perubahan  UUD 1945. Seruan ini disambut tepuk tangan ratusan hadirin. Ia berpendapat MPR RI harus dikembalikan sebagai lembaga tertinggi negara sebagai pelaksana  kedaulatan rakyat dan presiden adalah mandataris MPR RI. Salah satu tugas MPR adalah memyusun GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara), yang menjadi pedoman kerja bagi presiden.

Try juga menegaskan bahwa anggota MPR terdiri dari seluruh anggota DPR yang dipilih dan utusan daerah dan utusan golongan.  Ia menolak kehadiran DPD (Dewan Perwakilan Daerah).  Pilkada untuk memilih gubernur dan bupati/walikota dinilai sebagai pemborosan dan tidak sesuai dengan butir ke empat Pancasila.

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, dalam sambutan pendeknya menyatakan, MPR sudah membentuk lembaga pengkajian untuk meluruskan apa yang dianggap sebagai penyelewengan Pancasila. Banyak pensiunan perwira tinggi TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri hadir di acara itu. Juga wakil-wakil dari Angkatan 66, Barisan Nasional, Lembaga Jati Diri Bangsa, Bela Bangsa, Bela Budaya dan Front Nasional.

Pembicara  lain mengingatkan agar kita waspada terhadap bahaya  KGB (Komunis Gaya Baru) yang menyasar dan menyusup ke generasi muda dengan segala cara, termasuk penggunaan media sosial secara massif. Peringatan itu perlu dan penting! Tapi, juga perlu dan penting diingatkan bahwa Pancasila kini menghadapi musuh laten: Partai Koruptor Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Anti Bot *