Supersemar: Komunikasi Politik ala Jawa yang Canggih

Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), Hari Peringatan Kesaktian (Hapsak) Pancasila 1 Oktober 1965, dan G30S/PKI 1965 berkaitan erat. Supersemar dari Presiden Soekarno memberi tugaskepada Letjen Soeharto, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) sebagai pengembannya untuk mengambil  tindakan yang dianggap perlu demi memulihkan keamanan dan ketertiban serta menjamin keselamatan pribadi dan wibawa Presiden pasca G30S/PKI.

Penggunaan singkatan Supersemar, sama halnya dengan Hapsak Pancasila, adalah contoh bentuk komunikasi politik ala (budaya) Jawa.  Artinya, komunikasi dengan menggunakan simbul yang  sangat dipahami dan dipercayai oleh orang Jawa, mayoritas penduduk Indonesia, sehingga dampaknya luar biasa.

Komunikasi adalah perihal menyampaikan pesan. Politik adalah perihal mengenai pembentukan dan penggunaan kekuatan. Kekuatan adalah kekuasaan. Jadi, komunikasi politik dalam rumusan yang mudah dipahami orang awam adalah semua ihwal tentang penyampaian pesan yang berhubungan dengan upaya untuk merebut, menggunakan dan mempertahankan kekuasaan.

Semar adalah tokoh pewayangan yang dipercayai orang Jawa sebagai dewa yang turun dari kayangan ke dunia, memanusiakan diri, menjadi pamong para satria yang luhur budinya. Ia adalah lambang kesederhanaan, kejujuran dan kebenaran serta dikisahkan sangat sakti. Para kstaria yang “diemong” (dijaga) oleh Semar selalu unggul dalam memperebutkan wahyu dan peperangan. Contohnya adalah lima ksatria Pandawa yang unggul melawan seratus ksatria Kurawa dalam kisah Bharatayudha.

Semar saja sudah begitu hebat. Lha ini, Supersemar. Semar yang super, top markotop.  Jadi singkatan Supersemar, saya duga, sengaja dibuat untuk memberi legitimasi kepada pengembannya, yakni Pak Harto.  Dengan Supersemar Jendral Soeharto selaku Pangkopkamtib (Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) membubarkan PKI tanggal 12 Maret 1966 dan “membersihkan” anggota-anggota PKI dan pendukungnya serta pihak yang dianggap terlibat dalam G30S/PKI, termasuk dalam tubuh tentara.

Bahwa kemudian surat perintah yang sama dipakai untuk “merumahkan” Bung Karno , itu cerita lain. Anehnya, bentuk asli Supersemar sampai kini belum ditemukan. Sejumlah pihak menduga keras, Pak Harto sebagai penerima Supersemar mengetahui di mana dokumen asli yang sangat bersejarah dan penting itu berada.

Supersemar sangat besar pengaruhnya dalam meyakinkan rakyat Indonesia, yang kebetulan mayoritas orang Jawa (secara etnis dan atau kultural) bahwa Soeharto adalah ksatria yang “diemong” Semar untuk memerintah Indonesia. Buktinya, Pak Harto bisa bertahan berkuasa selama 30 tahun lebih. Tentu, di samping pengaruh Supersemar, Pak Harto juga memiliki kemampuan yang diperlukan untuk memerintah.

Menurut wartawan Jerman O. G. Roeder, yang menulis otobiografi Soeharto “The Smiling  General”, Pak Harto suka bertapa di goa Semar di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Bung Karno, presiden pertama RI, juga dikenal suka menggunakan ungkapan mistis, yang berbau kesaktian. Misalnya  Panca Azimat Revolusi. Kalau mendengar kata azimat, orang Jawa langsung mengaitkannya dengan kekuatan supranatural.

Kehebatan Semar juga dikenal dalam urusan asmara, yakni untuk memikat perempuan. Dalam ilmu klenik (mistik) Jawa ada yang disebut ajian “Semar Mesem” (Semar Tersenyum). Jika ajian ini dibaca, setelah melakukan puasa tertentu, konon perempuan yang semula acuh tak acuh bisa langsung “klepek-klepek”, menyerah.

Semar juga menjadi nama jajanan terbuat dari beras yang dimasak seperti lemper,yakni “Semar Mendem” (Semar Mabuk). Semar, menurut ki Dhalang , memang hebat. Kentutnya saja, bisa membuat dunia geger, “gonjang-ganjing“. Entah, karena bunyi atau baunya….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Anti Bot *