Tuhan Selalu Tampil Beda

Ada sejumlah orang yang ingin melihat wujud Tuhan. Mereka belum bisa menerima ajaran agama, sebelum melihat atau mendengar dan atau berdialog sendiri dengan-Nya. Mereka adalah para pencari Tuhan atau ‘God seekers’. Ada juga di antara mereka, yang menyebut diri sendiri sebagai “Pencari Kebenaran”. Mereka belum “sreg” menerima Tuhan kalau masih menurut cerita orang lain: “Tuhan itu begini atau begitu”.

Padahal, sudah sejak dahulu para guru, penyebar dan pengajar agama mengatakan Tuhan itu tidak bisa digambarkan. Tak bisa dibayangkan. Undescribable, kata orang Inggris. “Tan keno kinoyo ngopo”, kata orang Jawa. Artinya, tidak bisa diandaikan atau disamakan dengan apa pun. Dia itu Mutlak. Di luar jangkuan nalar. Mahagaib. Mahamisterius. Kalau bentuknya masih bisa dilukiskan dengan kata-kata, gambar atau benda, itu pasti bukan Tuhan. Tapi, justru karena itulah para pencari Tuhan menjadi penasaran.

Mawlana Jalaluddin Muhmmad, yang lebih dikenal dengan Jalaluddin Rumi atau Rumi saja, seorang guru spiritual dan sastrawan jenius kaliber dunia dalam sebuah karyanya juga membahas soal ini. Dalam “Fihi ma Fihi”, yang diterjemahkan Dr. Wheeler Thackson menjadi  “Signs of the Unseen” (Tanda-tanda dari Yang Tidak Kelihatan”,  Diskursus 26, hal 119, Rumi berbicara sbb:

“Seseorang selalu mencintai apa yang ia belum lihat, dengar dan mengerti. Siang dan malam ia mencari itu. Saya berkhidmat kepada apa yang saya tidak lihat.  Seseorang bisa menjadi bosan dan meninggalkan apa yang telah ia lihat dan mengerti. Karena alasan ini para filsuf menolak pengertian penampakan. Mereka mengatakan, ketika Anda melihat, mungkin Anda akan bosan.”

Tetapi tidak begitu. Kaum Sunni mengatakan, penampakan itu  adalah waktu Dia (Allah) muncul dalam satu cara, tetapi Ia muncul dalam seratus cara yang berbeda dalam setiap saat: setiap hari Ia bekerja dalam sejumlah pekerjaan baru (Ar Rahman, QS 55:29).

Sekalipun Dia mungkin menampakkan diri-Nya dalam seratus cara, tidak ada dua yang sama. Pada saat ini Anda melihat Tuhan dalam beberapa jejak dan perbuatan. Setiap saat Anda lihat Dia dalam berbagai cara, tapi tidak ada dua dari tindakan-Nya yang mirip.

Dalam saat kebahagiaan tidak ada satu manifestasi, dalam kedukaan tampil beda, dalam waktu takut lain, dalam waktu penuh harapan lain lagi. Seperti bervariasi  tindakan Tuhan dan manifestasi dari tindakan-Nya, begitu pula perwujudan dari esensi-Nya.

Anda juga, yang merupakan bagian dari kekuatan Tuhan, tampil dalam seribu cara yang berbeda  setiap saat dan tidak pernah tetap sama dalam setiap penampilan”.
Begitu Maha Besarnya Allah, sehingga tidak bisa terjangkau, tetapi sekaligus memukau. Rudolf Otto, filsuf Jerman dan pakar theologi, melukiskan penampilan Tuhan sebagai “mysterium tremendum et fascinosum” atau “tremending and fascinating “.

Arti ungkapan itu adalah “misteri yang menggentarkan, menakjubkan, tetapi sekaligus memesona. Dalam ajaran Islam, itu termaktub dalam sifat Nya, yang “Jalal dan  Jamal”. Begitulah, ungkapan tentang kemahabesaran Allah.

Ki Dhalang Narto Sabdo dalam adegan “goro-goro” menyuguhkan teka-teki tentang gambaran  Tuhan antara punakawan Petruk dan cantrik (santri, murid) Begawan Abiyasa sebagai berikut: “Ono kantha, tansah kinanthi-nanthi, ning yen di dumuk dudu”. Artinya, ada teman yang setia selalu ikut serta, tetapi kalau dipegang bukan. Apa itu? Cantrik pusing tujuh keliling. Jawab Petruk gampang: “Ayang-ayang (bayangan)”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Anti Bot *