Saatnya Kembali Menyayangi Alam

Memilukan dan menyayat hati saat kita saksikan asap mengurung saudara-saudara kita di sekitar Pekanbaru dan Sumatera. Kita pun tergerak untuk mendoakan dan membantu semampunya, sebagai wujud kepedulian kita kepada mereka. Lalu kita pun tersadarkan, betapa karena ulah manusia, alam kemudian marah. Dan yang rasakan kemarahan itu justru bukan mereka yang lakukan kerusakan itu, melaikan semua orang, yang di dalamnya ada rakyat biasa, anak-anak, bahkan penduduk yang selama ini setia kepada alam.

Saat asap belum usai, berita lain mencengangkan. Mereka yang teriak untuk lindungi alam dari kerusakan, malah dibunuh, karena ketidaksukaan mereka yang selama ini lakukan eksploitasi alam. Kita semakin tersayat hati, saat alam rusak, justru orang yang berteriak untuk menentang pengrusakan, justru berhadapan dengan kedzaliman.

Alam adalah fasilitas dari Tuhan untuk kita. ”Dialah Alloh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al Baqoroh: 29).

Manusia disediakan fasilitas alam untuk membangun keberlangsungan kehidupan. Namun bukan berarti bebas sekehendaknya mengeksploitasi, karena manusia itu sendiri adalah khalifah, makhluk yang diciptakan Tuhan untuk mengatur alam agar alam tetap terjaga, agar alam tetap menjamin keberlangsungan kehidupan itu sendiri. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik darai apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al Baqoroh: 168)

Kini disaat rangkaian kerusakan alam menunjukan dampak buruknya, kita teringat dengan firman Tuhan. ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar Ruum: 41). Ujung ayat ini menjelaskan, bahwa melalui kerusakan alam yang Alloh perlihatkan, sesungguhnya kita diingatkan agar kembali ke jalan yang benar, yakni jalan keharmonisan, jalan pemeliharaan alam.

Lalu tugas siapa menjaga alam, kitakah, presidenkah atau siapa. Alam ini fasilitas dari Tuhan untuk manusia, maka kita semualah yang berkewajiban menjaganya. Dalam lingkup yang sangat kecil, sebagai seorang pribadi kita harus jaga alam di sekitar kita, tidak membuang sampah sembarangan, tidak lakukan pengrusakan hutan, tidak menebang pohon sembarangan, dan tidak lakukan pengrusakan-pengrusakan lainnya. Tindakan-tindakan kecil yang dilakukan perorangan, dapat berupa memelihara pepohonan di sekitar rumahnya, di kebunnya, di sawahnya dan di area-area yang menjadi tanggung jawabnya. Kita mungkin begitu menuntut para pemimpin, namun seringkali kita sendiri menjadi bagian dari sebuah persoalan.

Dalam hal kita sebagai pemegang kendali-kendali kekuasaan, maka gunakanlah kekuasaan itu untuk membuat aturan, menegakan aturan dan menyempurnakan aturan-aturan agar tidak dengan mudah alam dirusak. Gunakan jabatan sebagai ladang kebaikan dengan menciptakan keteraturan, keharmonisan, perlindungan alam dan penjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat. Yang berbahaya, justru jika para penguasa terlibat persekongkolan dalam pengrusakan, dengan dalih pembangunan.

Alam adalah amanah Tuhan untuk kita gunakan, sekaligus untuk kita jaga. Tuhan sendiri tidak menyukai manusia yang berbuat kerusakan. ”Dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (Q.S. Al Baqoroh: 60).

Sekarang saatnya kita kembali sayangi alam, agar alam tetap bisa diwariskan kepada anak cucu kelak. Bukan hanya iba, mencemo’oh, mendiskusikan, tapi lakukanlah sesuatu. Karena ciri orang beragama adalah yang berbuat, beramal soleh. Bantulah mereka yang saat ini membutuhkan pertolongan karena kerusakan alam. Jika tidak mampu dengan pertolongan besar, lakukanlah dengan pertolongan kecil. Kemudian tunjukkanlah bahwa kita kembali sayangai alam, mulai dari diri kita sendiri, rumah kita sendiri, kampung kita sendiri, kota kita sendiri, provinsi kita sendiri, negeri kita sendiri dan dunia. Dengan kesadaran kolektif di antara kita, maka perubahan itu lebih terasa, dibanding hanya menunggu perubahan besar yang kita tunggu dari orang lain. Dan tugas para pemimpin, adalah mengambil langkah-langkah terbaik untuk lindungi negeri dari kerusakan alam. Inilah sejatinya khalifah fil ard, pengemban amanah Tuhan untuk menjaga kehidupan. Dan kita adalah kholifah fil ard itu.

Ahmad Mudzaki
___________________________________
Penulis adalah Pengajar & Pengelola Lembaga Pendidikan-Pelatihan,
Pemerhati masalah sosial, berkhidmat di Dompet Dhuafa Corpora Jakarta,
twitter: @ammudz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Anti Bot *