Tukang Angon Membangun Desa

Ilustrasi / Arthagaleri

Satu petikan kalimat yang membuat hati saya bergetar hebat. Kalimat sederhana tapi bermakna itu terlontar dari lidah seorang tukang angon (gembala) bebek.  Pak Didi, begitulah dia dikenal oleh masyarakat desanya.  Saya hanya bisa berdecak kagum tatkala dia menceritakan rekam jejak perjalanannya hingga membangun sebuah desa yang sarat dengan kemiskinan dan kebodohan.

Pak Didi bukanlah seseorang yang memiliki gelar akademis di perguruan tinggi. Dia hanyalah seorang tukang angon bebek. Namun, tokoh proklamator Indonesia, Bung Karno, mampu menggugah semangat dalam hatinya untuk membuat perubahan kecil di Desa Geyongan.

Dorongan itu bermula ketika Pak Didi merenungkan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Betapa tanah, sawah, hutan, sungai dan pegunungan diciptakan sedemikian indah di negeri ini. Begitu pula tatkala Pak Didi melihat kekayaan alam yang dimiliki desanya. Tanah dan sawah teramat lengang dan luas terhampar. Pak Didi sangat menyayangkan karena tanah dan sawah dikuasai oleh tuan tanah yang selalu semena-mena terhadap para buruh tani.

Akibatnya, masyarakat desa Geyongan jauh dari kesejahteraan hidup dan ditambah lagi rata-rata tingkat pendidikannya rendah. Banyak anak muda tetapi pekerjaannya hanya kebut-kebutan. Kalaupun ada yang pemuda baik, kebanyakan dari mereka memilih bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Berawal dari situ, Pak Didi mulai mengambil tindakan. Bagaimanapun Pak Didi menyadari bahwa dia tidak lebih dari tukang angon bebek yang tidak punya pengaruh apapun. Hingga akhirnya, Pak Didi memulainya dengan membentuk koloni atau dengan kata lain mencari tim. Pak Didi mendekati beberapa pemuda yang dia anggap berpengaruh dan kuat untuk diajak kerjasama membangun desa. Bersama pemuda-pemuda itulah Pak Didi menjalankan misinya. Dia dan koloninya memperbaiki jalan desa, menghilangkan monopoli di desanya serta menghapuskan sistem ijon dalam pertanian. Kemudian, para pemuda yang didekati Pak Didi, dipekerjakan di pabrik rotan agar mereka tidak menjadi TKI atau TKW.

Segala upaya pasti ada risikonya, demikian pula dengan Pak Didi. Otak dan hatinya telah kenyang dengan berbagai macam cacian, makian hingga cemoohan. Pernah suatu ketika Pak Didi dan koloninya sedang memperbaiki jalan desa, namun mereka dicemooh oleh masyarakat dan dianggap orang gila. Tapi, Pak Didi tidak menyerah, dia mencoba cara lain yaitu dengan mendekati pemerintah desa. Menurut Pak Didi, pemerintah bagaimanapun lebih kuat dan mampu untuk melakukan apapun termasuk membangun desa terpencil. Dari sinilah Pak Didi mendekati Pak  Kuwu (Kades) dan memasukkan ide-idenya untuk perubahan desa.

Tahun demi tahun berlalu, sekarang Pak Didi sudah berprofesi sebagai Satpol PP sekaligus menjadi orang yang paling disegani sedesanya. Desa Geyongan yang dulunya gersang, penuh dengki dan persaingan, kini telah bertumbuh. Rumah-rumah yang dulunya dari bambu, sekarang dindingnya sudah memakai tembok. Sawah-sawah tumbuh subur dan ternak-ternak mulai bertambah banyak.

Dengan bermodal prinsip hidup “Pantang Menyerah”, Pak Didi masih terus membangun. Sampai detik ini, Pak Didi sedang mengupayakan pembangunan madrasah di desanya. Baginya, kebodohan hanya bisa diberantas oleh akal yang cerdas. Good Luck Our Hero![]