Pahlawan yang Dilupakan

Hari berganti hari, tahun pun berganti tahun. Kita percaya bahwa memang ada waktu yang merentang lurus, karena itu setiap hari manusia berpikir suatu dimensi seperti adanya malam, bulan, dan musim. Sebelum waktu diukur dengan tepat, manusia pernah berpegang pada kronologi terjadinya binatang berdasarkan temuan lapisan bumi (stratografik). Bahwa, yang pertama kali ada di muka bumi ini ialah ikan, menyusul amfibi, kemudian reptil, dan terakhir mamalia. Karena belum ada fosil manusia yang ditemukan, berkembanglah anggapan bahwa manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan oleh Tuhan.

Tahun 1975 James Hutton, seorang pakar gunung berapi, meneliti gunung berapi yang membentuk permukaan bumi. Ia meneliti masa sekarang untuk menghubungkannya dengan masa lalu. Ia berkesimpulan bahwa perubahan bumi sangat perlahan. Karena itu, untuk sampai pada kondisi bumi yang ada sekarang, diperlukan waktu yang sangat lama. Orang-orang Mesir lah kemudian yang dapat menghitung satu hari terdiri atas enam puluh menit. Untuk mensosialisasikan masyarakat agar sadar dan tepat waktu, orang Barat punya kebiasaan memasang jam pada sebuah menara.

Dengan demikian, masyarakat selalu menganggap waktu menjadi bagian dari hidupnya. Bukan, hanya detik demi detik dihitung dengan tepat, tetapi juga pengakuan bahwa sebuah kualitas waktu merekat pada sesuatu yang hidup dan tidak hidup. Yang sangat berharga setelah itu, umur manusia di atas bumi bisa diketahui dan mendorong manusia selalu bertanya tentang dirinya.

Kita percaya, waktu sebagai sebuah proses bersiklus atau merentang lurus (linier). Karena itu, ada masa lalu dan masa kini. Dalam perjalanan waktu, lumrah suatu generasi diganti oleh generasi lain yang lebih baru, ada proses regenerasi. Dari generasi Budi Utomo ke generasi Sumpah Pemuda, dari genersai kemerdekaan pada genersi pascakemerdekaan. Tanpa adanya regenerasi, berarti menentang hukum alam. Bung Kamo oleh manusia dinobatkan sebagai.”presiden seumur hidup”, tetapi Bung Kamo tetap mengikuti jalan hidupnya. Sunatullah, Ia tidak bisa mengawetkan waktu.

Kita memang merasa telah melalui perjalanan waktu yang panjang. Kita selalu bergerak maju, tetapi adakalanya hal itu tidak terjadi. Mr. Muh. Yamin ketika berumur dua puluhan membuat rumusan teks Sumpah Pemuda, kemudian teks itu diresmikan sebagai naskah Sumpah Pemuda yang menjadi mitos ikatan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Ternyata puluhan tahun kemudian, oleh generasi yang belum lahir ketika itu, dipertanyakan ulang. Mereka ternyata ada yang menghendaki federalisme kembali. Begitu banyak waktu yang tersia-sia dan niscaya. Ada masa lalu dan masa kini. Dalam jarak waktu itu, terbentang banyak misteri, seperti alam ini dibuat oleh sang pencipta,tidak ada manusia yang tahu dengan pasti apa yang akan terjadi besok.

Masa lalu biasa dianggap hanya sebagai artefak sejarah, masa yang tidak lagi penting dibandingkan masa kini dan masa esok. Banyak orang yang beranggapan bahwa yang penting hanya masa kini. Hari ini apa jabatan kita. Bagaimana kita berkuasa sekarang. Jika bukan hari ini, selesailah. Dengan gampang kita melupakan masa lalu, pahlawan pada masa lalu cepat dilupakan. Jasa-jasa baik seseorang di masa lalu cepat pula luntur dari ingatan kita. Begitu banyak orang penting, pahlawan dan orang berjasa pada masa lalu yang kita campakkan. Yang kita tahu adalah orang yang berada dalam kesadaran waktu kita. Penyair besar, politisi, ahli hukum, dan arsitek yang kita akui hanyalah mereka yang ada dalam kesadaran waktu kita . Pada suatu ketika kelak, mereka pun dilupakan, karena generasi berikutnya hanya mengenal yang ada dalam kesadaran waktu mereka.

Banyak peradaban yang diciptakan manusia masa laJu hilang terbawa waktu, ada yang musnah oleh tangan manusia dan ada pula yang ditelan oleh bumi. Yang benar, dalam perjalanan waktu selalu ada yang berkelanjutan (continue) dan ada yang berubah (change), seperti perjalanan bumi ini dan perjalanan hidup kita.