Revolusi Menthal

Melawan korupsi, alhamdulillah, telah menjadi jenis kepahlawanan baru. Pemaknaaan kontemporer atas Pertempuran Surabaya 10 November 1945 itu mengemuka menjelang peringatan Hari Pahlawan 2015. Pertempuran Surabaya yang menunjukkan heroisme dan patriotisme pemuda Indonesia itu adalah salah satu puncak Perang Revolusi (1945-1950) untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

“Revolusi memakan anak-anaknya,“ kata Bung Karno, presidenRI pertama. Maksudnya, revolusi memakan para pelakunya. Seturut dengan itu, banyak pemuda jatuh menjadi korban dalam pertempuran itu. Demikian juga di pihak Tentara Sekutu (Allied Forces) pimpinan Inggris dan tentara Belanda (NICA) yang membonceng untuk kembali menguasai Indonesia.

Bung Karno adalah tokoh nasionalis sejati dan pengobar revolusi sepanjang hayatnya, hingga ia mendapat gelar sebagai Pemimpin Besar Revolusi (Pemberev) Indonesia. Sang Pemberev sendiri mungkin bisa juga jadi contoh korban revolusi.

Kaum komunis dan orang-orang beraliran kiri adalah pendukung utama Bung Karno yang menggelorakan semangat “Revolusi Belum Selesai”. Setelah G30S/PKI 1965 gagal, Jenderal Suharto dan para pendukung Orde Baru segera melakukan pembersihan pimpinan PKI dan orang-orang komunis serta simpatisannya, termasuk yang berada di tubuh TNI. Jumlah korban sampai sekarang masih belum pasti. Ada yang menyebut 300 ribu, setengah juta sampai tiga juta orang.

Setelah para pendukung G30S PKI ditumpas, terjadilah apa yang oleh pendukung Bung Karno disebut “deSukarnosisasi”, yakni deligimatisi Soekarno, ajaran dan pengikutnya. Setelah turun tahta, digantikan Pak Harto, Bung Karno wafat “in disgrace”, yakni dalam status tahanan rumah Orba tanggal 21 Juni, 1970.

Bahwa Bung Karno dimakamkan dengan upacara kenegaraan dengan Irup Panglima ABRI, Jendral TNI Maraden Panggabean dengan ratusan ribu atau jutaan pelayat di Blitar, Jatim, keesokan harinya, itu cerita lain. Bahwa Presiden Soeharto melalui Kepres juga menyatakan hari berkabung tujuh hari atas wafatnya Bung Karno, itu soal lain lagi.

Bung Karno adalah ideolog, sumber ideologi PDIP, pengusung Jokowi menjadi Presiden RI ke 7. Karena itu, Jokowi juga mengumandangkan Revolusi Mental. Itu tercantum dalam butir ke 8 dari Nawa Cita, sembilan program kabinet Jokowi-JK. Bunyinya: Melakukan Revolusi Karakter Bangsa.

Revolusi ditengarai sebagai gerakan yang gegap gempita, menyala-nyala, penuh semangat.Tapi, Revolusi Mental (Revolusi Karakter Bangsa) terkesan “adhem-ayem” (tenang-tenang saja), kurang “greget” (gairah) atau kurang penuh “elan” seperti kata Bung Karno.

Sejumlah pengamat melihat penyebabnya adalah karena kurangnya “narasi” tentang apa itu Revolusi Mental. Iklan layanan masyarakat tentang Revolusi Mental yang disiapkan Kantor Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pimpinan Puan Maharani (cucu Bung Karno) terdengar tanpa gairah. Iklan yang disiarkan radio itu hanya menyerukan “Ayo berubah”, tanpa menjelaskan arah dan berubah untuk apa.

Sementara itu, setahun pertama pemerintahan Jokowi-JK ditandai dengan menguatnya upaya untuk pelemahakan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Jadi, Revolusi Mental makan siapa?

Padahal, seturut semangat jaman, jika pemerintah mau, menghukum mati para koruptor adalah jawaban terbaik untuk pertanyaan itu. Apalagi, pernah ada tersangka korupsi yang dulu sesumbar siap digantung di Monas jika terbukti korupsi satu rupiah saja. Ya, gantung saja dia! Tentu, bersama para tersangka lain yang terbukti.
Jika tidak ada tindakan berani, maka Revolusi Mental akan terdengar seperti bunyi ucapan orang Jawa: Revolusi Menthal. Artinya, revolusi mencelat atau memantul.