Surabaya Geger, Mengungsi ke Madiun

 

Pertempuran Surabaya, 10 November 1945, salah satu episode terpenting Perang Revolusi (1945-1950), hingga diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Pengaruhnya dhasyat, termasuk dalam bidang seni budaya. Sampai dua puluh tahun kemudian, berbagai karya seni terasa sangat diilhami oleh peristiwa heroik itu. Lagu rakyat berikut ini sebagai salah satu contohnya:

Suroboyo geger, ngungsi neng Mediyun,

Mediyun-Jakarta, janji rukun tetep merdeka”.

Lirik itu dalam bahasa Indonesia berbunyi:

“Surabaya geger, mengungsi ke Madiun/Madiun-Jakarta, asal rukun tetap merdeka”.

Dulu, saya suka melantunkan lagu itu, tanpa tahu persis apa maknanya. Yang ada di benak saya, Surabaya adalah kota besar dan Madiun adalah kota kecil di pedalaman. Di otak saya, orang kota besar karena kondisi tidak kondusif akibat geger, mengungsi ke pedalaman. Jarak Surabaya- Madiun anya sekitar 170 km, bisa ditempuh dengan kereta api. Lalu, dari Madiun langsung ke Jakarta.

Belakangan, saya tahu, lagu itu mengandung makna penting: seruan untuk kerukunan, jika ingin Indonesia tetap merdeka. Dalam masa perang revolusi, desa menjadi tulang punggung para pejuang di kota untuk suplai bahan makanan dan tempat bersembunyi jika terdesak oleh musuh. Tidak hanya untuk pejuang, tetapi juga orang kota. Tentu, orang Surabaya tidak hanya mengungsi ke Madiun, tapi juga ke kota pedalaman lain sekitar Surabaya, termasuk Kediri.

Menurut sejumlah senior, tentara Belanda sering melakukan “sweeping” ke desa-desa untuk mencari para pejuang yang diduga bersembunyi. Jika gerilyawan tidak ditemukan, orang-orang desa sering menjadi korban. Diksiksa atau ditembak mati dengan tuduhan melindungi para pejuang, yang sudah lari duluan entah ke mana. Belanda “hitam” (orang Indonesia yang bekerja sebagai tentara Belanda) dikenal lebih kejam daripada Belanda “putih”.

Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus, 1945 adalah sebuah revolusi. Proklamasi itu sebuah peristiwa dahsyat yang menjungkirkbalikkan keadaan: dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka, dari yang diperintah menjadi yang memerintah. Proklamasi adalah sumber utama semangat revolusi(oner).
Selama Bung Karno berkuasa (1945-1966), semangat revolusioner terjaga. Presiden pertama RI itu adalah seorang orator ulung, pengobar semangat. Dalam masa 20 puluh tahun pertama RI, lahir berbagai karya seni-budaya dijiwai semangat revolusi.

Saya menikmati “cerkak” (cerita cekak atau cerpen) dan roman revolusi bertemakan “cinta dan perjuangan” yang dimuat mingguan “Panyebar Semangat”. Majalah berbahasa Jawa itu terbit di Surabaya, didirikan oleh Dr. Soetomo, tokoh Kebangkitan Nasional/ pendiri Budi Utomo, pada tanun 1933. Bung Karno mengapresiasi “Panyebar Semangat”, sesuai namanya, dalam menyebar semangat juang rakyat.

Dalam kurun waktu itu, lahir sejumlah lagu romantis bertemakan “cinta dan perjuangan”, seperti “Sepasang Mata Bola”. Juga lahir sejumlah buku novel dan film dengan tema serupa. Contohnya, film “Darah dan Doa” dan “Pejuang”. Semuanya berkisah tentang indahnya cinta antara laki-laki dan perempuan, dikemas menjadi satu dengan cinta kepada tanah air, yang memerlukan pengorbanan harta, jiwa dan raga.

Nah, Revolusi Mental dan Gerakan Bela Negara kini, perlu dukungan karya seni-budaya untuk menggelorakan semangat rakyat. Misalnya, perlu diciptakan mars seperti “Maju Tak Gentar”. Alasannya, dalam praktek, semangat mars itu telah berubah dari ”Maju tak gentar membela yang benar”, menjadi “Maju tak gentar membela yang bayar”. Walahualam. (KBK)