Karena Papua, Presiden JF Kennedy Dibunuh?

S. Sinansari ecip

Sebuah buku sangat penting, dikeluarkan oleh penerbit di Selangor (Malaysia). Amerika Serikat turun tangan “mengusir” Belanda supaya keluar dari Papua karena gunung emas. Yang menemukan tembaga dan emas (dan mungkin uranium) adalah orang Belanda, pada zaman pendudukan di Hindia Belanda.

Buku itu bernama The Incubus of Intervention, Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles. Penulisnya Greg Poulgrain, dosen di salah satu universitas Australia. Penelitian dilakukan dengan serius dan lama.

Dulles seorang intel seumur-umur. Ketika JF Kennedy (JFK) lahir Dulles sudah intel. Kemudian dia menjadi kepala CIA. Kepiawaiannya di bidang perintelan dia tunjukkan dalam konfliknya dengan presiden muda yang cemerlang itu. Dia galang kekuatan di dalam negerinya untuk tidak menyetujui apa yang dimaui JFK dalam kaitan Sukarno dan Indonesia.

JFK bersahabat dengan Sukarno. JFK akan ke Indonesia pada 1964. Dia ingin menghentikan konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Dia ingin Sukarno tetap menjadi presiden. Sebaliknya, Dulles berencana menjatuhkan Sukarno.

Sejauh yang kita fahami, Belanda ditekan AS karena Indonesia sudah mengepung Belanda yang masih di Papua. Indonesia a.l. minta bantuan Uni Soviet dengan berbagai peralatan perang. Pada masa itu, angkatan perang Indonesia paling kuat di Asia Tenggara. Kini Indonesia memble, kalah dibandingkan Singapura dan Malaysia. Tentu saja, AS juga ingin menguasai Indonesia, dalam kaitan perang dingin Blok Barat dan Blok Timur.

Kita tahu JFK ditembak mati, pada November 1963. Sampai sekarang, tidak ada keterangan resmi siapa yang sebenarnya yang melenyapkan JFK. Sungguhlah aneh, negeri yang begitu maju tidak dapat membongkar rahasia pembunuhan presidennya.

Bisa juga ada anggapan, jika Belanda masih menguasai Papua, kekayaan gunung-gunung emas di sana tetap dikuasai Belanda. Nafsu serakah perusahaan AS tidak akan terlaksana. Jika Papua dikuasai Indonesia, negeri muda ini mudah untuk dibohong-bohongi. Kenyataannya sekarang seperti itukah? Manakala Belanda tetap berkuasa di sana, perusahaan AS tidak dengan mudah berbohong-bohong.

Yang aneh adalah JFK sampai tiba meninggalnya, tidak tahu ada gunung-gunung emas yang akan dikuasai Dulles dkk. Persahabatan JFK dengan Sukarno cukup luar biasa. JFK percaya Sukarno bukanlah komunis. JFK juga percaya yang diucapkan Sukarno kepadanya bahwa kader PKI sebenarnya hanya 10% dari 2 juta anggota PKI. Sisa yang besar adalah nasionalis. Mungkin 10% itu adalah kader-kader PKI yang inti.

Lebih daripada itu, Sekjen PBB Dag Hammarskjold (orang Belanda) tewas dalam kecelakaan di Afrika, 1961. Dia merencanakan program pembangunan ekonomi bagi Papua. Boleh diduga, itu mungkin untuk memperlama pendudukan Belanda atas Papua yang menyimpan harta karun tersebut. Dulles tentu berpikir, itu tidak boleh terjadi.

Masih sejauh yang kita fahami, maklumlah kemudian yang dipasang AS sebagai komisaris Freeport ialah Henry Kissinger, mantan menteri luar negeri, yang dalam masa jabatannya sangat terkenal.
Beberapa orang penting Orba mendukung Freeport hidup panjang karena mereka juga mendapat kehidupan dari Freeport.

Kemudian bobollah pertahanan Presiden Sukarno. Bertahun-tahun menjadi presiden, Sukarno tidak membiarkan harta kekayaan bangsa dibongkar untuk kepentingan orang luar negeri. Sampai Sukarno turun tahta, Indonesia masih hampir utuh kekayaannya, terutama migas, hutan, dan barang tambang lainnya.

Mungkin karena sebab pada masa peralihan ke Orba, pemerintah tidak punya uang maka dileluasakan perusahaan luar negeri meng-acak-acak kekayaan tersebut. Kekayaan perawan itu dibongkar, diolah, dan kita mungkin sangat tidak tahu, berapa kekayaan yang sudah dibawa ke luar negeri. Tidak kita ketahui pula, berapa hak yang kita peroleh? Mungkin hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan kekayaan tersebut, sebagian masuk kantong pribadi.

Untuk merebut gunung-gunung emas, AS tidak peduli korban yang akan jatuh. Presidennya sendiri dikorbankan. Belum lagi penderitaan Indonesia akibat PRRI-Permesta dan kudeta G30S/PKI. Begitu Sukarno jatuh, ekonomi berantakan. Uang Rp 1.000,- dijatuhkan nilainya menjadi Rp 1,- Kekuasaan berikutnya berkepanjangan dan rakyat tidak mendapat apa yang diharapkannya. (**)