Mengenang Prof. Dr. Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia

Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, namun karakter bangsa yang diinginkan Prof. Dr. Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia, belum juga terwujud. Justru sebaliknya. Prof. Koentjaraningrat,  biasa dipanggil Prof. Koen, tahun 1974 mengungkapkan mentalitas manusia Indonesia yang menghambat pembangunan.

Dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan” 41 tahun lalu, Prof. Koen menyebut sifat-sifat yang menghambat pembangunan, yakni: 1. Mentalitas yang meremehkan mutu, 2. Mentalitas suka menerabas, 3. Sifat tidak percaya kepada diri sendiri, 4. Sifat tidak berdisiplin murni dan 5. Sifat tidak bertanggung jawab.

Sifat-sifat yang tidak kondusif untuk pembangunan, bahkan merusak, itu masih saja ditemukan pada bangsa ini, termasuk para pengelola pemerintahan dan pengambil keputusaan, kata Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono dalam acara “Mengenang Prof. Koentjarangingrat”  yang diselenggarakan Lingkar Budaya Indonesia (LBI) di Jakarta, Kamis (26 November) sore.

Meutia Hatta, mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, mengajukan  pertanyaan: “Kita ingin bangsa Indonesia seperti apa?” Meutia, mantan murid Prof. Koen, menjawab sendiri pertanyaannya, yakni: bangsa yang tangguh (termasuk tidak boros, tidak malas dan disiplin), tekun, mandiri, cinta tanah air dan bangsanya dan tidak rendah diri.

Mengacu kepada tulisan Prof. Koen, Meutia menyebut  karakter yang harus dimiliki bangsa Indonesia meliputi: 1. Sifat menghargai mutu/kualitas, 2. Kesabaran untuk meniti usaha dari awal, 3. Adanya rasa percaya diri karena yakin akan kualitas dirinya, 4. Sikap disiplin dalam waktu dan pekerjaan dan 5. Mengutamakan tanggung jawab.

Prof Koen, lahir di Yogyakarta 15 Juni, 1923, dan wafat 23 Maret, 1999 di Jakarta. Ia dikenal sebagai guru besar yang mendidik langsung sebagian besar ilmuwan antropologi yang menjadi pengajar utama di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik swasta atau negeri. Prof. Koen membangun dan mengembangkan jurusan antropologi di UI, UGM, Unpad, USU, Unhas dan Uncen. Sepantasnya ia digelari Bapak Antropologi Indonesia.

Prof. Koen, yang dikenang para mahasiswanya sebagai manusia yang sederhana dan disiplin, pernah mengatakan bahwa pembangunan pada dasarnya adalah pembangunan manusia. Karena itu, jangan hanya ilmu ekonomi yang menjadi primadona pembangungan, suatu waktu harus beralih ke ilmu-ilmu sosial.

prof KoenAcara mengenang Prof. Koen ditandai oleh penyerahan penghargaan berupa patung Dewi Saraswati, lambang dewi ilmu pengetahuan, kepada janda Prof. Koen, Ny. Stien (Kustiani) oleh Ibu Herawati  Diah, ketua dewan pembina (LBI) dan tokoh pers sepuh, 98 tahun, didampingi Ketua LBI, Ny. Sasmiyarsi Katoppo, dan wakil ketua, Rani D. Sutrisno.

Ny Sasmiarsi, yang biasa dipanggil Mimies, mengatakan sejak berdiri tahun 2006, LBI mempunyai tradisi untuk memberi penghargaan kepada tokoh-tokoh yang telah mengabdikan hidup  mereka bagi pendidikan dan kebudayaa Indonesia. Sebelumnya,  penghargaan telah diserahkan kepada Prof. Dr. Fuad Hassan, mantan Mendikbud, dan H.B. Yassin, kritikus dan mahaputera  sastra Indonesia.

Di samping Meutia, wartawan senior Mulyawan Karim, mantan murid Prof. Koen, juga menyampaikan presentasi dalam dialog yang dipandu Prof. Dr. Sri Edi Sedyawati.  Prof. Dr. Emil Salim hadir di acara yang digelar di auditorium Kemenristek/Dikti, Senayan itu.

Atas pertanyaan apakah revolusi mental yang diusung Presiden Jokowi  bisa menjadi sarana pembangunan karakter bangsa seperti yang diinginkan Prof. Koen, Meutia menjawab bahwa sampai sekarang masih belum ada kesamaan pandangan tentang revolusi mental di antara para ahli.