Sembah Cipta (Salat Tarekat)

Setelah mampu menjalankan sembah raga atau shalat lima waktu sehari semalam sesuai syariat, orang dapat meningkat ke tahap berikutnya, yakni sembah cipta atau sembah kalbu. Tentu dengan tanpa meninggalkan sembah raga. Di sini hubungan antara manusia dengan Tuhan dilakukan melalui kalbu.

Bersucinya tidak lagi dengan air (wudhu) seperti dalam sembah raga, melainkan dengan memerangi hawa nafsu atau menjauhkan diri dari angkara murka dan segala sesuatu yang dapat memecah konsentrasi lakunya, demikian menurut Wedhatama.

Lakunya adalah bertindak tertib, teliti, berhati-hati dan tekun, betapapun sulit dan berat. Ini akan menumbuhkan watak dan kebiasaan ingat dan waspada atau “eling lan waspodo”. Jika diterima oleh Allah, hasil sembah cipta ini pelakunya akan mampu melihat jalan yang sebenarnya, tarekat, menuju “kasunyatan” atau kenyataan yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Sembah cipta juga disebut salat tarekat.

Apabila dilaksanakan dengan tertib, sembah cipta akan berakibat lenyapnya penghalang yang memisahkan pemandangan alam lahir dan alam batin, demikian menurut Dr. Hj. Koosinah Soerjono Sastrohadikoesoemo dalam bukunya “Serat Wedhatama, suatu Kajian Pemikiran Filsafat”.

Lenyapnya penghalang atau hijab ini disebut “tinarbuko” dalam bahasa Jawa. Ini mulai dirasakan pada sembah ketiga, yakni sembah jiwa/sukma. Tanda sudah sampai pada tataran ini adalah keadaan seolah-olah pingsan atau setengah tidur, antara sadar dan tidak. Wedhatama menyebutnya sebagai masuk ke alam “ngaluyut”.

Wedhatama mengungkapkan ini dalam bait ke-13, yang biasa dilantunkan sebagai Suluk oleh dalang, sbb:

Tan samar pamoring suksma,

Sinuksmaya ing ngasepi,

Sinimpen telenging kalbu,

Pambukaning warana

Tarlen saking layap liyeping ngaluyup,

Pindha pesating supeno sumusuping rasa jati.

Terjemahan bebasnya adalah sbb: Tidak ada keraguan akan cahaya jiwa yang tersimpan dalam dasar kalbu, yang memancar di kala sepi, terbukanya tabir/penghalang yang menutupi (pemandangan batin), sewaktu mata sedang terbuka dan terkejap dengan ingatan setengah sadar, saat itu Rasa Jati menyusup dengan cepat ke dalam kalbu seperti mimpi.

Untuk sampai pada pengalaman ini, orang harus sabar dalam segala tindak, dan terlaksananya dengan “eneng, ening, eling”, yaitu dengan tenang, syahdu dan sadar. Sembah cipta akan gagal kalau orang bersikap tidak setia akan hasrat dan tujuan semula dan menjadi sombong, ingin puji-pujian dari para pengikutnya. Karena itu, harus selalu ingat dan waspada terhadap yang membatalkan sembah ini.

“Kasunyatan” berasal dari bahasa Sanskrit “sunyata”, yang berarti sunyi atau “suwung” atau tidak ada apa-apa, menurut “Kunci Swarga” (Miftahul Jannati), buku dalam bahasa Jawa karya Bratakesawa yang terbit tahun 1952.

Menurut Bratakesawa, hasil sembah cipta adalah “makrifating tarekat”. Artinya, pengertian yang ditangkap oleh tiga indra (tri indriya) dari delapan indra (astendriya). Ke delapan indra itu terdiri dari pancaindra (mata, kuping, lidah, hidung dan kulit) dan tiga indra, yakni jantung, otak dan “pringsilan” (buah zakar).

Ketiga indra dalam “Wirid Hidayat Jati”, karya Ronggowarsito, disebut Betalmukaram (Baital Muharram), Betalmakmur (Baital Makmur) dan Betalmukadas (Baitul Maqdis). Betalmukaram disebut rumah larangan, karena dianggap arasy, tempat Tuhan bersemayam.

Betalmukaram, tempat rahasia “Ingsun” bertahta di dada manusia. Di dalam dada ada hati dan jantung, di dalamnya ada budi. Di dalam budi ada angan-angan, di dalamnya ada sukma (rahsa), di dalam rahsa ada Ingsun”. Yang dimaksud “Ingsun” adalah Tuhan. Wallahu alam bissawab.