Sembah Jiwa, Bersuci dengan Selalu Ingat Allah

Sembah jiwa adalah sembah ketiga. Wedhatama menuturkan sembah ketiga diperuntukkan bagi sukma (karena itu, disebut juga sembah sukma). Sembah ini harus dilakukan setiap saat dan dirasakan sedalam-dalamnya dengan rasa kejiwaan yang tenang, hening dan waspada (Eneng, Ening lan Eling).

Sembah jiwa adalah inti dari segala macam sembah, tidak lagi tercampur dengan yang lahiriah. Ini disebut tindakan batin yang penghabisan. Bersucinya dengan selalu awas dan ingat (eling lan waspodo) kepada Yang Maha Esa. Ada yang mensejajarkan sembah Jiwa dengan “Salat daim”.

Caranya, dengan berusaha menguasai, mengikat dan merangkul tiga jagad (alam), yakni jagad besar(makrokosmos) digulung dengan jagad kecil (mikrokosmos). Dalam diri manusia disebut ada tiga alam, yakni alam materi (wadag), alam astral (perasaan) dan alam mental (angan-angan).

Hasil dari sembah jiwa itu datang pada saat keadaan antara “bangun dan tidur” sekejab tidak sadarkan diri. Inilah tanda mulai “tinarbuko” atau sudah sampai pada batas kekuasaan Tuhan. Apabila manusia masih ingat akan alam lahiriah, tujuan manunggal dengan Tuhan gagal.

Keadaan antara “bangun dan tidur” itu disebut “luyut”, yaitu batas lahir dan batin. Orang harus sabar dan waspada mengikuti situasi yang menghanyutkan (alam kanyut) itu. Jangan ragu dengan munculnya cahaya terang benderang, suatu cahaya gaib, yang bersinar seperti bintang, tanpa bayangan.

Wedhatama mengingatkan, cahaya itu bukan cahaya Ilahi, melainkan cahaya budi. Cahaya yang memimpin kehidupan sanubari dan membuka hati akan Kuasa dan Yang Menguasai. Sembah jiwa dilakukan apabila orang sudah mahir dalam sembah kalbu. Prosesnya sbb:

Pertama-tama menyatakan niat yang disebut “ngangkah” untuk mencita-citakan sesuatu. Kemudian tujuan itu diikat dan dipegang teguh supaya tiga alam dalam diri manusia menjadi satu agar terbuka hati untuk menerima cahaya Tuhan dan bersatulah Kawulo dan Gusti.

Buku “Kunci Swarga” wanti-wanti mengingatkan, tahap terbukanya hijab ini sebagai situasi “gawat-keliwat-liwat” sebab banyak godaan, yang dapat menggagalkan tujuan semula untuk “bersatu” dengan Tuhan. Di sini sumber kekuatan gaib, seperti aji-ajian, yang banyak digandrungi orang Jawa. Ada empat jenis kekuatan gaib, yakni mukjizat para nabi, karomah wali, ma’unah mukmin (Muslim yang taat beribadah) dan istidraj orang kafir.

Pemilik mukjizat dan karomah tidak merasa memilikinya, berfungsinya tanpa disengaja di saat-saat perlu yang berkaitan hanya dengan urusan penyiaran agama. Pemilik ma’unah demikian juga, berfungsinya secara “ndilalah” atau kebetulan. Ada yang menyebut “ndilalah” singkatan dari “adiling Allah” atau (berkat) keadilan Allah.

Istidraj muncul karena diniati, karena dorongan nafsu. Karena Allah Maha Pemurah, permintaan orang kafir pun, jika diilakukan dengan sungguh-sungguh, akan dipenuhi. Istidraj umumnya tampil dalam bentuk kesaktian, pemilikya cenderung tergoda berbuat kejahatan.

Ranggowarsito dalam “Wirid Hidayat Jati” menyebut manusia bertemu atau manunggal dengan Tuhan di Betalmukaram, di dalam dada manusia. Sebagian orang menolak kepercayaan manusia dan Tuhan bisa menyatu, karena berbeda jenis. Satunya makhluk, satunya Khaliq.

Ada anggapan, “Manunggaling Kawulo lan Gusti” (Bersatunya Manusia dengan Tuhan) adalah Kejawen, ajaran berdasar kebudayaan Jawa. Bagi yang percaya, apa yang disebut pertemuan manusia dengan Tuhan itu tidak seperti bertemunya orang dengan orang, melainkan suatu suasana ilahiah yang tak bisa dijelaskan dengan apa pun (tan kena kinaya ngapa atau tan kena cinakra bawa). Wallahu alam bissawab.