Sembah Rasa atau “Salat Makrifat”

Sembah rasa adalah sembah ke empat dan yang terakhir dari “catur” sembah Wedhatama. Sampai tahap ini, pelakunya sudah merasakan hakikat dari “ngelmu luhung” (ilmu luhur) melalui bermacam ibadah.

Bersucinya dengan zuhud , yakni membuang semua “gegayuhan” (cita-cita), semuanya tertuju kepada Tuhan. Sembah rasa menjadikan pelakunya mengerti hakikat kehidupan manusia sebagai ciptaan Tuhan. Sembah ini tidak memerlukan lagi petunjuk,semata-mata hanya dengan kekuatan batin. Ini rahasia tertinggi, tidak boleh dibicarakan sembarangan.

“Janganlah mengaku-aku, apabila belum mengalami sendiri. Itu pelanggaran dan akan mendapat laknat dari Tuhan. Orang hanya berhak membicarakannya , apabila sudah mengalaminya sendiri”, Wedhatama mengingatkan.

Sembah rasa dalam buku “Kunci Swarga” disebut salat makrifat. Ini adalah tataran tertinggi dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Rasa dalam sembah ini adalah rasa jati, bukan rasa lahiriah. Rasa yang dapat merasakan gunanya hidup, maka tidak perlu lagi petunjuk untuk melaksanaannya. Yang penting: kesentausaan bathin. Untuk itu, perlu sabar, tawakal, tanpa pamrih dan kasih sayang. Tidak ragu, percaya pada takdir

Rasa jati manunggal dengan rasa alam semesta, sulit membedakan seperti halnya manis dan madu: mana yang manis, mana yang madu. Atau pedas dan cabai. Bila rasa ini sudah dikuasai, sabda Tuhan meresap dalam batin.

Rasa jati atau “sejatining rasa” adalah rasa yang paling halus. Untuk menguasai ilmu kasunyatan, orang harus rela, menerima, sabar dan ikhlas, berserah diri kepada Tuhan. Segala tindakan dilakukan secara wajar dengan disertai sikap memaafkan kesalahan orang lain.

Berkat rasa ini, orang dapat memahami dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Ini merupakan pelita dalam hati dan membuka dinding yang selama ini menghalangi pemandangan terhadap Tuhan.

Raja jati sama dengan intuisi. “Ngelmu” atau “kawruh”, yaitu pengetahuan berkat salat makrifat yang berbeda dengan pengetahuan dalam falsafah Barat yang mengandalkan akal atau rasio. “Ngelmu” berurusan dengan rasa. Ini hanya mewujud jika disertai “laku” seperti berpuasa, berpantang atau “tirakat” dengan tekad kuat dan budi setia sebagai penghancur angkara murka.

Itu tertulis dalam bait ke 33 Wedhatama:“Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase klawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara.”

Jika sudah mencapai rasa jati, manusia sudah mencapai kesempurnaan. Ini dicapai berkat melakukan “sembah catur” ( empat sembah) dengan utuh. Kesempurnaan ini disebut “sejating makrifat”, yakni menyatunya Kawulo dan Gusti. Suatu keadaan yang tidak bisa dijelaskan dengan apa pun. Ibarat “leburing papan kalawan tulis” (meleburnya papan tulis dengan yang tertulis) , kata “Kunci Swarga”.

Dalam sembah ketiga sudah mulai terbuka berbagai macam “warana” (hijab) yang menghalangi antara makhluk dan Khalik. Keadaan ini diharapakan bisa diraih lima kali sehari semalam dalam salat syariat. Setidaknya, sekali dalam sehari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan mungkin sekali dalam seumur hidup. Itulah yang disebut shalat yang khusyuk.

Salat makrifat dalam “kunci Swarga” disejajarkan dengan yoga. Pelakunya disebut yogi. Orang yang berhasil melakukan salat makrifat disebut arifin. Tapi, tidak semua yogi bisa disebut arifin.

Seturut kedua buku, Islam Jawa terbukti tetap menganjurkan pengikutnya untuk melakukan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Ini sekaligus menunjukkan Islam yang datang belakangan di Jawa menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Wallahu alam bissawab.