Perang Sabil Kaum Ibu

Kelahiran adalah peristiwa sangat penting bagi sang anak dan kedua orang tua, terutama ibu. Ada dua manusia yang hari kelahirannya diperingati orang di seluruh dunia, yakni Nabi Isa Almasih dengan Hari Natal dan Nabi Muhammad SAW dengan Maulid Nabi. Kebetulan, Maulid Nabi dan Natal tahun 2015 terjadi beriringan, yakni 24 dan 25 Desember.

Melahirkan anak adalah salah satu kodrat perempuan setelah menstruasi dan mengandung. Masih ada satu lagi: menyusui sesudah melahirkan. “Di luar itu, apa yang disebut kodrat perempuan adalah rekayasa atau konstruksi social,” kata kaum feminis yang memperjuangkan kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan.

Melahirkan bagi perempuan adalah sebuah peristiwa yang sangat membahagiakan, tapi sekaligus menimbulkan harap-harap cemas, bahkan mengerikan, terutama bagi sang calon ayah. (Ini pengalaman saya pribadi).

Menurut cerita sejumlah perempuan, rasa sakit waktu melahirkan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Seribu satu rasa sakit menyatu. Bukan hanya rasa sakit, tetapi nyawa sang calon ibu dipertaruhkan. Karena itu, Mbah (nenek-nenek) dukun bayi di kampung dulu sering menghibur sang calon ibu dengan nasehat yang menyejukkan: “Sabar ya Ndhuk, pasrah kepada Gusti Allah, kamu baru melakoni Perang Sabil.” Sang calon ayah pun diminta Mbah dukun untuk menyaksikan dengan mendukung istrinya sambil meniup ubun-ubunnya disertai membaca doa, memohon keselamatan bagi istri dan calon anaknya.

Perang sabil adalah perang suci, perang di jalan Allah. Kalau pelakunya meninggal dunia, ia dianggap mati syahid. Begitu mulianya peran ibu saat melahirkan. Ungkapan Mbah dukun tentang perang sabil itu berasal dari cerita Pak Kiai, yang mengutip sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Sekalipun dianggap mati syahid, kita tidak boleh terlena untuk tidak berusaha menurunkan angka kematian ibu saat melahirkan yang menjadi salah satu Tujuan Pembangunan Milineum (MDGs). MDGs yang dicetuskan PBB dan disetujui 189 kepala pemerintahan, termasuk Indonesia, menargetkan mengurangi 2/3 angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2015.

Indonesia gagal mencapai target itu, bahkan AKI naik. Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan pada Februari 2015 AKI Indonesia saat itu adalah 359 per 100 ribu kelahiran. Angka itu naik dari 228 per 100 ribu kelahiran pada 2012. Khofifah mengakui, AKI Indonesia sangat tinggi. Penyebabnya adalah pendarahan, infeksi, tekanan darah tinggi akibat kualitas hidup rendah, gizi rendah dan kurang zat besi serta nikah dini.

Data Kemenkes menunjukkan bahwa 82 persen AKI terjadi pada ibu muda yang beusia 15 sampai 20 tahun. Perilaku seks bebas di antara remaja, yang kebablasan sampai hubungan intim, disebut berkontribusi besar bagi kematian ibu muda.

Karena MDGs gagal, kini dilancarkan SDGs (Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan).

Berbicara kodrat dan kemuliaan perempuan, Khofifah sebagai pembicara kunci pada peringatan Hari Ibu ke 87 oleh KOWANI di Wisma ANTARA pertengahan Desember lalu mengutip puisi Ratih Sang(garwati), seorang peragawati, yang berjudul” Bila Ibu Boleh Memilih”.

Inti puisi itu: Ratih memilih berbadan besar karena mengandung ketimbang langsing, melahirkan secara alamiah daripada operasi Cesar, bangun malam untuk menyusui anaknya ketimbang berdandan indah dan duduk di lantai, menemani anaknya bermain menempelkan puzzle daripada duduk berlama-lama di ruang rapat.

“…berjuang melahirkanmu…. menunggu dari menit ke menit seperti menunggu antrian memasuki pintu surge,” tulis Ratih.