Shalat: Perlu Mengerti Arti Bacaan

Kebanyakan orang Jawa dikategorikan Clifford Geertz sebagai Mulim minimalis atau Abangan. Ketaatan menjalankan shalat lima waktu dalam sehari-semalam secara teratur dijadikan ukuran pembatas antara Islam minimal dengan Santri dan priyayi.

“Orang Jawa lebih suka memakai ungkapan “dereng nglampahi” (belum menjalani) ketimbang “mboten nglampahi (tidak menjalani) shalat,”  kata Prof. Dr. Muhammad Bambang Pranowo MA dalam   karyanya “Memahami Islam Jawa”.

Seraya menyerukan pengkajian ulang trikotomi Priyayi, Santri dan Abangan ala Clifford Geertz, Prof. Bambang mengatakan, proses Islamisasi di Pulau Jawa adalah sebuah dinamika. Sebuah proses yang perlu waktu. Pendapatnya itu didukung  hasil penelitian di sebuah desa di Jawa Tengah, 1985-1987.

Transformasi dari penganut Hindu dan Budha ke Islam berlangsung secara dinamis melalui proses akulturasi. Wali Songo, para penyebar Islam di Pulau Jawa, menempuh pendekatan budaya dan mengamalkan ilmu komunikasi “empan-papan”.

Sebagian orang Jawa mengatakan belum menjalani sholat secara teratur dengan alasan “belum mengerti” arti bacaan shalat dalam bahasa Arab. Karena itu, niat sholat bagi orang Jawa (dulu) terdiri dari dua bahasa, yakni bahasa Jawa dan bahasa Arab. Contohnya, setelah mengucap “Bismillahirrohman irrohim”, lalu “Niyat Ingsun, salat… (Saya berniat sholat), baru setelah itu “Usholli…”. Ada juga, “Usholli” dulu, baru Niyat Ingsun”.

Penggunaan niat dalam bahasa Jawa, bahasa Ibu, dimaksudka agar lebih “sreg”, “manteb” (mantap).   Ada pihak yang khawatir kemungkinan terjadinya distorsi makna aslinya, seraya menjelaskan: “Belajar bahasa Arab dan membaca Al Quran tidak sulit, kecuali bagi pemalas.”

Sebagian orang berpendapat, keyakinan akan muncul jika sudah ada pengertian. Dan, terbukanya hati untuk mudah mengerti dan terpanggil untuk menjalankan sholat Syariat dan membaca Al Quran juga karena “ridho” Allah.

Terkait pentingnya mengerti arti bacaan dan menjalani sholat,  perlu disimak ungkapan berikut: “Salat jengkang-jengking, nanging ora ngerti tegese” (sholat, dengan menungging-nungging, tapi tidak mengerti artinya).  Ada lagi, ungkapan yang dipakai provokasi pihak yang anti-Islam, termasuk PKI (Partai Komunis Indonesia) : “Salat ora maregi” (Sholat tidak membuat orang kenyang).

Imam Ghazali, sering mengatakan ada tiga jenis keimanan seseoran, yakni “taqlid”, keimanan hanya karena ikut-ikutan; keimanan ahli kitab Agama (Ushuludin) dan keimanan ahli Makrifat (Arifin).

Para wali dan kiai di desa-desa (dulu) memberi toleransi kepada pengucapan kata-kata bahasa Arab yang kedengaran Arab-Jowo (dipengaruhi bahasa Jawa), karena nampaknya orang Jawa sulit mengucapkan lafal “ain”, lalu menjadi “ngain”. Akibatnya, Audzubillah, diucapkan “Angudubillah” atau “Ngudubillah” saja dan Syariat menjadin Sarengat. Juga untuk beberapa lapal hurup Arab, termasuk “kha, qaaf, kaaf dan haa”.

Akibat kesulitan pengucapan itu, beberapa nama yang berasal dari bahasa Arab berubah. Misalnya, Muhammad menjadi Mokamad, Qasim menjadi Kasim, Hassan menjadi Kasan, Hasbi menjadi Kasbi, Fatonah menjadi Fatongah dan Said menjadi “Sangit” (bau gosong). Sementara itu, ada pihak yang berkomentar bahwa pengucapan yang salah, bisa berdosa, karena mengubah makna. Ini membuat banyak orang Jawa menghindari ungkapan dalam bahasa Arab, takut keliru, berdosa. Dampaknya, banyak orang yang memilih ”belum menjalani” Syariat, kecuali sunat dan menikah.

Waktu kecil, sehabis shalat di mesjid, saya ikut melantunkan pujian untuk Kanjeng Nabi Muhammad yang disebut putera Raden Abdullah dan ibunya, Dewi Aminah.  Sebuah contoh Jawanisasi gelar Arab agar lebih mudah dimengerti, karena sesuai “setting” budaya lokal.