Mengintip Harga Minyak 2016

455 views
Ilustrasi / drillingjournal.net

Tahun 2015 lalu menjadi tahun yang kurang menguntungkan bagi si emas hitam. Harga minyak dunia yang sempat bertengger di atas 100 USD/barrel di 2014 berangsur-angsur anjlok hingga US$34 di penghujung tahun ini. Mirip dengan big-sale dan obral diskon seperti yang dilakukan  pusat pusat perbelanjaan menyambut akhir tahun.

Ada banyak analisa yang dikaitkan atas longsornya harga minyak dunia. Yang cukup klasik biasanya menghubungkan dengan melemahnya perekonomian dunia, terutama Eropa dan China, dua kawasan yang menjadi garda depan pertumbuhan ekonomi global. Mesin Ekonomi China melambat cukup drastis, sementara sebagian Eropa didera krisis keuangan akibat rentetan kejadian di Yunani. Ibarat sebuah mobil yang sebelumnya berjalan kencang, kini tiba-tiba harus injak rem dan memperlambat lajunya. Terang saja mereka harus berhemat bahan bakar dan memakai seperlunya saja.

Namun jika hanya itu saja faktornya maka tak ada alasan harga minyak  tersungkur sampai di bawah US$40. Jika hanya karena itu yang terjadi, dugaan saya seturun-turunnya harga minyak masih akan bertahan di atas US$60. Logika paling elementer dalam ekonomi pasar adalah jika sisi permintaan berkurang, maka harga akan turun. Nah masalahnya tidak hanya berhenti di faktor permintaan, sisi penawaran pun ugal-ugalan mengguyur pasar minyak mentah dunia. OPEC, sebagai salah satu kartel minyak dunia yang paling berpengaruh, menggenjot habis-habisan produksinya tanpa hirau atas dampak jatuhnya harga minyak secara jangka panjang.

Arab Saudi selaku negara yang paling berpengaruh di organisasi tersebut tak ingin kehilangan pangsa pasarnya yang selama ini menjadi pelanggan tetap. Kekhawatiran akan Shale Oil—sebuah varian baru dari crude oil yang deposit terbesarnya ada di belahan bumi Amerika Utara—membanjiri pasar dunia hingga menggerus segmen pasar Saudi dan OPEC, ditindaklanjuti dengan cara produksi jor-joran. Sebab hanya dengan harga murahlah, beberapa analis menyebut cost of production shale oil US$70, produksinya akan berhenti. Nampak bahwa competitive advantage Saudi atas Amerika adalah di harga produksinya, yang jauh lebih murah dan sulit dikejar oleh produsen shale oil. Faktor OPEC sebagai penentu harga minyak dunia ini dikuatkan oleh riset yang dilakukan oleh Kaufmann (2004).