Detak Jantung Lambat Tidak Berhubungan dengan Sakit Jantung

Ilustrasi: Jantung

WASHINGTON (KBK) – Orang dengan detak jantung yang melambat (bradikardia), biasanya akan merasakan pusing, sesak napas, pingsan dan nyeri dada. Hal itu  karena jantung tidak mampu mendistribusikan oksigen yang cukup melalui darah yang dipompa ke seluruh tubuh.

Lambatnya detak jantung itu, diukur apaibila ia berdetak dibawah 50 kali per menit, sedangkan detak jantung orang yang normal akan berdetak di 60 s.d 100 kali per menit.

Namun lambatnya detak jantung tersebut menurut penelitian terbaru, yang dirilis di Amerika Serikat (AS), Selasa (19/1/2016), tidak berpengaruh kepada penyakit jantung dan pembuluh darah (Kardiovaskular).

“Untuk sebagian besar orang dengan detak jantung lambat di usia 40-an atau 50-an tidak ada masalah,” tulis Ajay Dharod, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Wake Forest Baptist Medical Center.

Hingga saat ini, katanya, ada belum ada penelitian yang menyatakan apakah denyut jantung yang lambat dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan penyakit kardiovaskular.

Dalam studi baru, peneliti mensurvey 6.733 peserta berusia 45-84 yang tidak memiliki penyakit kardiovaskular. Peserta diteliti selama lebih dari 10 tahun untuk memantau kejadian kardiovaskular dan kematian.

Para peneliti menemukan bahwa detak jantung kurang dari 50 tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, terlepas apakah pasien menggunakan obat jantung dan penurunan tensi, seperti beta blockers dan calcium channel blockers.

Seperti dikutip KBK dari Xinhua, Rabu (20/1/2016), hasil studi ini dipublikasikan secara online dalam Journal of American Medical Association Internal Medicine.