Gerakan Islam Cinta Mengajak Netizen Untuk Lebih Kritis

JAKARTA (KBK)- Menanggapi fenomena munculnya konflik yang ada di dunia maya oleh beberapa golongan akibat efek dari kebebasan berpendapat. Gerakan Islam Cinta hadir untuk mengajak para netizen agar tidak menyebarkan informasi yang memecah belah dan bersikap kritis serta bijak terhadap informasi yang diterima.

“Pengkotak-kotakan sudah muncul pada masyarakat, oleh sebab itu muncullah ungkapan hatters,” Ujar Bambang Harymurti, salah satu deklator GIC pada acara diskusi GIC di Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Bambang menambahkan, masyarakat penting merasa sadar akan tanggung jawab tentang informasi yang mereka sampaikan melalui dunia maya.

“Setiap individu adalah pers bagi dirinya masing-masing, oleh sebab itu mereka harus bertanggung jawab akan informasi yang mereka sampaikan,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama Komarudin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga menjadi salah satu Deklarator GIC mengkonfirmasi bahwa keberagaman pemahaman masyarakat Indonesia dapat menjadi faktor terpecah belahnya masyarakat. “Banyaknya golongan agama dan etnis membentuk pluralisme, oleh sebab itu harus dicegah,” kata Komar.

Komar menambahkan tantangan besar saat ini adalah membuat golongan-golongan yang sudah terpecah agar dapat memberikan informasi secara keagamaan dan kemanusiaan yang universal. Lebih lanjut komar memaparkan masyarakat perlu diingatkan kembali kepada semboyan satu nusa satu bangsa.

Pada tahun 2016 ini GIC mencanangkan beberapa program diantaranya Festival Islam Cinta (adalah sebuah festival yang mengarus utamakan Islam moderat dan mempromosikan nilai Islam yang damai), Pelatihan literasi bagi DAI, Guru PAI, Santri, dan Aktifis Rohis, serta Penerbitan dan penyebaran buku komik jumat.