Berburu Pembalut Kabel

Ilustrasi / Liputan6.com

Sebetulnya yang diburu adalah pembalut (pembangkus) kabel. Kenapa pembalut lebih 25 truk bisa berada di gorong-gorong dalam waktu yang lama? Isi kabelnya berupa tembaga dicuri kemudian dijual. Pembalutnya ditinggal di gorong-gorong Jl. Medan Merdeka Selatan. Maling-malingnya sudah ditangkap.

Konon harga tembaga dan timahnya tinggi, paling murah Rp 60 ribu per kilogram. Tembaga dan timah tersebut dibawa ke tukang-tukang tadahnya di Jakarta. Para penadah sedang dalam pengejaran polisi.

Pembalutnya, entah kenapa ditinggal di dalam gorong-gorong. Kemungkinan besar penyembunyiannya di bawah tanah supaya tidak dilihat orang hingga dikhawatirkan pencuriannya cepat terbongkar. Gubernur Ahok langsung mencurigai, ada yang menyabot hingga air ketika banjir tidak mengalir dengan lancar. Akibat berikutnya, kompleks Istana yang berada di Jl. Medan Merdeka Utara bisa kebanjiran tipis beberapa kali.

Tuduhan sabotase bisa menjurus ke arah politik. Di Jakarta orang sudah mulai ribut soal persiapan pilkada gubernur tahun depan. Mungkin ada yang berpikiran, banjir di sekitar Istana dapat menjatuhkan nama baik gubernur. Karena itu, yang menyabot bisa jadi lawan-lawan gubernur.

Apakah benar terhambatnya aliran air banjir di Merdeka Selatan berakibat langsung pada air yang menyerang Istana? Dikabarkan, air yang terhambat tersebut mestinya mengalir ke barat, ke sungai besar terdekat di Cideng. Karena aliran di bawah tanah terhambat, banjir meluber ke atas permukaan tanah.

Gorong-gorong di simpang lampu merah Merdeka Utara-Merdeka Barat diperiksa. Ternyata gorong-gorong yang mengarah ke Istana tersebut hampir penuh ditutup lumpur yang sudah mengeras. Diduga keras itulah penyebab Istana kebanjiran, bukan pembalut kabel. Untuk membongkarnya harus ada izin dari Istana, yang sampai sekarang belum keluar.

Dari kasus pembalut kabel dan lumpur mengering terkuak info kepada kita bahwa keberadaan gorong-gorong tidak diawasi dengan ketat. Mestinya pemerintah DKI rutin mengontrol gorong-gorong seperti dilakukan di Pasar Minggu dan Lenteng Agung. Menjelang musim hujan, gorong-gorong dikeruk supaya aliran air lancar.

Sedihnya, dalam pembuatan gorong-gorong kurang dipikirkan akan bagaimana air mengalir. Penggaliannya asal gali saja. Misalnya kedalaman galian 1 (satu) meter sama rata. Tanah rata, rendah, dan agak tinggi digali dengan kedalaman yang sama. Akibatnya, begitu hujan tiba, air menggenang pada bagian gorong-gorong yang rendah, air tidak mampu tembus ke bagian yang tinggi.

Selain itu, gorong-gorong di Jakarta apakah yang dibikin pada zaman Belanda atau yang belakangan, ukurannya sempit. Gorong-gorong mestinya lebar hingga orang dewasa bisa bergerak dengan leluasa. Itu antara lain untuk memudahkan kontrol, perbaikan, dll.

Film-film luar negeri sering memperlihatkan gorong-gorong yang besar. Orang dengan bebas bergerak di dalamnya. Ingat film zaman perang di Yogya? Ada tentara yang menghindar dan muncul di tempat lain melalui gorong-gorong yang besar.

Keberadaan gorong-gorong dibuatkan peta sejak perencanaannya. Setelah selesai dibangun, apa saja yang ada di dalamnya dicatat. Peta dan kelengkapannya disimpan di balai kota.

Pada zaman penjajahan Belanda, segala sesuatu harus rapi dengan kontrol yang ketat. Keberangkatan dan kedatangan kereta api harus tepat waktu. Rel kereta dikontrol per beberapa jam oleh petugas yang berjalan kaki. Pintu air dikontrol, bahkan diperiksa, apakah baut dan paku masih di tempatnya. Siapa yang lalai akan dihukum.

Jadi, siapa yang salah dalam kaitan gorong-gorong yang tersumbat di Monas? Jawabannya, yang salah ramai-ramai: maling, pemilik kabel (tanpa kontrol), dan pemda DKI, juga tanpa kontrol rutin. (**)