Layar Kaca yang Ramah Anak

Indonesia mengenal TV siaran sejak 1962 bersamaan dengan pelaksanaan Asian Games. Pada waktu itu pula kompleks olah raga Senayan yang gagah diperkenalkan. Jembatan Semanggi mulai dipakai. Peristiwa-peristiwa itu adalah bagian yang cukup penting dalam sejarah Indonesia modern.

Puluhan tahun kemudian kita kenal TV siaran swasta yang komersial dengan lahirnya RCTI dan para tetangga berikutnya. Selama puluhan tahun kita mengenal siaran TV pemerintah sebagai saudara kandung siaran radio pemerintah. TVRI dan RRI menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam arus informasi. Sistem politik yang berlaku membuat dunia penyiaran (radio dan TV) sebagai corong. Pemerintah masa tersebut harus mengakui peran sangat penting keduanya.

Sistem arus informasi membuat masyarakat bertahun-tahun mendapatkan kaca mata pandang dengan tipe milik kuda. Warga masyarakat hanya disuguhi pandangan yang satu arah. Kuda tidak mendapat kebebasan untuk melihat kiri-kanan, apalagi atas-bawah. Itu kelemahannya.

Tapi media cetak masih tetap mendapat kebebasan dibanding media penyiaran. Itu bukan berarti media cetak tidak mendapat kendala. Ada beberapat peradilan politik buat mereka, putusan politik yang mematikan mereka alias tidak boleh terbit. Itu juga bagian dari pelajaran buat media cetak di Indonesia.

Kelebihannya, kedua lembaga penyiaran memberikan hiburan kepada masyarakat dengan bermutu. RRI menyuguhkan sandiwara radio melegenda Butir-butir Pasir di Laut, Saur Sepuh, dan sejenisnya. TVRI tidak mau kalah dengan Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Tuanku Sambusai, Rumpun Bambu, Jendela Rumah Kita, dan sejenisnya. Persembahan itu adalah sandiwara dan sinetron yang benar-benar mendidik.

Di zaman berikutnya, arus informasi dibuka lebar. Kaca mata kuda dilepas. RRI dan TVRI tidak lagi menjadi kepanjangan tangan dan corong pemerintah. Mereka mendapat sebutan baru, lembaga penyiaran publik. Pemerintah tidak boleh lagi memonopoli pemanfaatannya. Kepentingan masyarakat menjadi menonjol meski dari segi pembiayaan masih dari negara. Kebebasannya bersejajar dengan media cetak. Kelebihan media cetak cukup luar biasa karena tidak memerlukan izin lagi, sesuatu yang selama puluhan tahun sebelumnya dianggap sebagai hantu.

Dari sisi hiburan, lembaga penyiaran publik ditenggelamkan oleh hiruk pikuk sajian penyiaran swasta, terutama TV-nya. TVRI kurang menampilkan tayangan hiburan yang mendidik seperti pada periode sebelumnya. Mereka tertinggal lari oleh hiburan murah yang mendapat rating tinggi. Rating yang secara kasar menunjukkan besarnya perhatian penonton sangat diharapkan oleh industri TV komersial karena berhubungan erat dengan perolehan masukan dari penayangan iklan.

Kehadiran fungsi menghibur dan mendidik larut ke dalam hiburan yang tanpa memperhitungkan muatan mendidiknya. Yang kasihan adalah anak-anak usia abg (anak baru gede) dan usia sebelumnya. Segmen usianya rawan dalam perkembangan jiwa tapi masukan dari penyiaran kurang bermuatan mutu. Siarannya mempunyai efek tiru yang tinggi, artinya mudah ditirukan.

Anak-anak dengan mudah suka berkelahi karena jenis tontonan berkelahi dan banting-bantingan yang berjuluk smack-down. Untung tontonan kasar tersebut cepat dilarang. Tayangan sejenis (kekerasan) masih ada meski muncul dalam bentuk boneka ataupun kartun animasi.

Kelompok sajian siaran kekerasan bernama HVS (horror, violence, sex). Sajian kengerian dan mistik masih ada di sana sini, misalnya soal-soal hantu. Kandungan seks juga masih ada, meski sudah berkurang. Ketiga jenis muatan tersebut dibolehkan jika munculnya pada malam hari, di atas pukul 22.00. Meski dibenarkan untuk tayangan malam menurut peraturan, bukan berarti media dengan leluasa menyajikannya secara mentah.

Siaran untuk anak-anak, abg, dan remaja diperlukan. Selain diperbanyak juga muatan pendidikannya sangat diperlukan. Generasi mereka akan menjadi pengganti orang tuanya. Masukan yang positif dari media sangat diperlukan supaya mereka menjadi generasi yang tidak kalah dibandingkan para tetangga. Tayangan dan siaran yang ramah-anak, sangat diperlukan. (***)